Cerita Dewasa Ngentot Sama Rara

Foto: Baru tiga bulan aku menikah dengan seorang gadis cantik keturunan Chinese bernama Tiara, pangilannya Rara. Aku sendiri pria keturunan Chinese bernama Reno, dengan tinggi badan 185 cm, atletis. Aku memimpin suatu perusahaan yang aku rintis sendiri bersama dengan kawan-kawanku dan lumayan sukses. Usiaku saat ini 28 tahun. Tiara adalah seorang gadis yang berwajah oriental dan cantik, yang berusia 25 tahun. Dengan kelembutannya, dan tinggi badan 170 cm, berat 47 kg, kulit putih mulus dan dada berukuran 34C, membuatnya sempurna untukku. Pernikahanku yang baru seumur jagung ini tentulah sangat dipenuhi oleh kemesraan dan kegembiraan yang nyata dalam kehidupan kami. Fasilitas rumah besar dan dua mobil mewah dari orang tua kami melengkapi semuanya itu.  Kehidupan sex kami juga cukup luar biasa, dimana hampir setiap malamnya (dan terkadang paginya) kami lalui dengan cumbuan, foreplay dan orgasme demi orgasme yang sangat memuaskan kami berdua. Tapi aku punya suatu fantasi yang agak keterlaluan sebetulnya; yaitu aku ingin menonton istriku yang cantik ini disetubuhi oleh lelaki lain yang dalam bayanganku adalah seseorang yang berusia muda, ganteng, tegap, dst. Aku ingin melihat istriku mengalami orgasme dan memberikan kepuasan kepada lelaki itu di hadapanku. Fantasi itulah yang biasanya selalu berhasil mengantarku ke orgasme yang hebat, baik pada saat aku sedang bersanggama dengan istriku, maupun pada saat aku sedang melakukan onani seorang diri.  Pernah kusampaikan kepada istriku pada saat kami sedang berhubungan seks di suatu malam, dan tampaknya fantasi itu juga memicu birahinya, terbukti dengan bertambah terangsangnya dia saat itu. Ceritanya begini.. Pada saat posisinya di atas, dan penisku berada di dalam vaginanya dan sedang seru-serunya dia bergoyang, kuremas lembut buah dada 34C-nya dan kukatakan dengan napas terengah-engah karena kurasakan orgasmeku hampir tiba dan vaginanya juga sudah mulai mencengkram batang penisku.  "Sayanghh, aku ingin melihatmu ngentot sama cowok lainhh.. aahh..". "Hmmhh? Emangnya boleh, say? Hmmhh?" Katanya sambil bergoyang dan memutar mutar pantatnya yang membuatku mendelik keenakan. "Kalo boleh kamu mau? Ohh baby.. memek kamu ngejepit nihh. Ahh.." ujarku lagi sambil terus meremas dan mengelus putingnya yang sudah sangat tegang dan merah kecoklatan itu. "Ahh.. tau ahh.. kamu ngaco ajahh.. ohh baby, kontol kamu udah makin keras. Gede banget, say. Oughh.." "Aku pengen lihat kamu sepongin dia dan dia jilatin memek kamu.. Ouuhh yess.. terus sayangghh, puter terus pantat kamu.. aahh." "Terushh? aahh.. kamu nggak cemburu emangnya? Ahh.. oohh.. gila, kontol kamu enak banget sih, say?" Goyangannya makin hot dan seru, sedangkan vaginanya makin mencengkram keras batangku. "Nggak, babe.. aku nggak cemburu.. oohh.. aku udah mau sampai nih.. aku pengen kamu dientot cowok lain sambil aku tontonin.. aahh baby.. aku keluarr.. aagghh.." Maniku menyembur di dalam vaginanya dengan deras sambil tanganku mencengkram erat pinggulnya. Dan tampaknya hal itu dan fantasiku ikut memicu orgasmenya juga. "Ohh yess.. oohh yess.. aku keluar juga, sayangghh.. aagghh.." Tubuh mulus istriku ambruk di atas tubuhku, matanya terpejam dan vagina berkedutan cukup lama juga, sambil kupeluk dan kuelus punggung dan pantatnya.  Beberapa saat setelah itu, dengan tubuh basah berkeringat, kami berciuman mesra. Hawa AC yang dingin merasuki tubuh kami. Dengan gayanya yang khas dan manja, Tiara menyusup kebalik selimut dan tidur di dadaku. Tangannya mengelus-elus dadaku dan aku mengelus rambutnya, meresapi apa yang baru saja kami nikmati bersama. Tiba-tiba dia sedikit mengangkat tubuhnya dan memandangku dalam-dalam, lalu berkata, "Yang kamu bilang tadi beneran apa cuma lagi napsu doang sih, say?" Tangannya yang iseng menarik-narik jembutku yang kusut dan basah terkena cairan vaginanya campur keringat. "Emm.. beneran dong. Kenapa?" Aku iseng juga dan kupencet hidungnya yang mancung. Dengan bercanda dia berontak dan pura-pura mau menggigit tanganku yang iseng tadi. "Gila ih. Itu kan nyeleweng dong artinya? Kok kamu malah nganjurin aku buat nyeleweng?" "Nyeleweng atau nggak itu sih terserah deh. Namanya juga fantasi. Boleh dong?" Aku menjawab sekenanya lalu beranjak bangun dari ranjang mau ke kamar mandi. "Udah, mandi dulu, yuk? Udah gitu kita bobo." Dia kembali tiduran dan bengong memandangi langit-langit kamar.  *****  Besok paginya aku terbangun oleh ciuman di bibirku. Istriku tampak baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah dan tubuh hanya terbalut g-string putih. "Jam berapa nih, kok udah keren?" kataku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. "Yee.. udah jam 6 lho. Ayo bangun, nanti telat ngantor. Sikat gigi gih. B-a-u deh mulutnya. Hihi." "Salah sendiri nyium. Pasti bau dong. Namanya juga fresh from the oven. Ngapain pake g-string segala?" "Aku mau pake rok mini putih hadiah dari mami kamu. Itu rok rada tipis deh kayaknya. Kalo pada cel-dal biasa nanti jelek." "Apa boleh ngantor pake rok seksi macam gitu?" tanyaku polos. "Nggak tau juga. Biar aja ah. Model-modelnya kan juga suka pake mini-minian begini. Aku nggak mau kalah ceritanya. Hahaha." Rara bekerja di salah satu perusahaan advertising terkemuka di Jakarta, yang memang sering menggunakan jasa para model (amatir dan pro).  Aku nggak jawab lagi dan langsung lompat ke kamar mandi yang kebetulan ada di dalam kamar tidur kami. Iseng, kucolek buah dadanya yang masih telanjang dan selalu bikin mataku jelalatan dan penisku tegang, sambil tangan yang satunya lagi mengelus buah pantatnya. "Idih, amit-amiit! Pelecehan seksual tuh, tau! katanya pura-pura marah, sambil nyentil penisku. Aku meringis kesakitan. "Aduh.. atit ya, cayang?" katanya menyesal sambil mengelus penisku. "Sini aku sembuhin.." Sambil berkata begitu, dia melorotkan celanaku dan penisku yang memang tegang sejak bangun tadi, diremas dan dikulumnya sambil lidahnya berputar di kepala penisku. "Oh my God.." aku kaget banget api seneng juga. Tapi baru beberapa isapan, dilepasnya lagi. "Udah ah.. nanti dia GR. Kalo GR, dia suka pusing dan muntah lho!" katanya sambil mengedipkan matanya lucu. Aku jadi gemas dan penasaran, tapi kulihat jam terus bergerak, dan aku ada janji ketemu seseorang untuk breakfast. Oleh karenanya kubiarkan dia lolos kali ini, dan terus bergegas mandi.  *****  Tepat aku lagi mulai meeting direksi di kantorku jam 2 siang, telepon genggamku berbunyi. Tiara meneleponku. "Halo?" "Hi, sayang.. lagi ngapain kamu?" "Aku lagi meeting nih. What's up, babe?" Para anggota direksiku saling lirik dan tersenyum. "Pak Romi mesra banget ya? Maklum pengantin baru sih." Pak Jerry, direktur operasiku bercanda sedikit. Aku cuekin saja. "Sayang, nanti malem temenku Si Ayu ngajakin double date di Fountain Lounge Grand Hyatt." Tiara menjawab renyah. "Mau ya? Pleasee.." "Acara apaan sih? Ya OK lah. Dia mau traktir emangnya?" "Tauk. OK ya, Jam sembilan kita ketemu mereka di sana. Have fun with the meeting, say. Bilangin direkturmu jangan iseng." "Iya, iya. See you, babe." Kututup teleponku sambil melotot ke Pak Jerry yang tetap cengar-cengir.  Ayu ini sebenarnya adalah istri dari sahabatku, Sonny, yang adalah putra satu-satunya dari seorang pilot senior Garuda Indonesia yang sekarang menjabat sebagai direktur di salah-satu perusahaan penerbangan. Beliau ini masih keluarga keraton Solo, tapi sudah amat sangat liberal dan sudah nggak ada lagi tanda-tanda kekeratonannya. Apalagi Sang Sonny sendiri yang cuek luar biasa di dalam pergaulan dan topik pembicaraan. Kalau obrolan yang menyerempet soal seks, Sonny ini juaranya. Aku kenal dia sejak masih SMP di bilangan Menteng. Orangnya sangat ganteng dan berpenampilan macho. Perawakannya tidak jauh berbeda denganku, hanya dia lebih pendek sedikit saja. Ayu berperawakan rata-rata wanita Indonesia. Yang paling menarik darinya menurutku ialah bibir yang ranum dan matanya yang bulat cantik.  Sorenya kujemput istriku di kantornya di daerah Kuningan (kantorku sendiri di daerah Kebayoran Baru). Di perjalanan dia tertidur pulas sekali sambil merebahkan kepalanya di bahuku. Aku duduk sambil membaca majalah Times. Kulirik sopirku. Dia kelihatan mulai senewen dengan kemacetan Kuningan. Maklumlah hari Jumat sore. Sudah pasti rush hour gila-gilaan. Sopirku ini sudah menjadi sopir pribadiku sejak aku kelas 2 SMA. Aku sudah sangat akrab padanya. Dia adalah keponakan dari sopir papaku, usianya sekarang 34 tahun. Namanya Hermansyah, kusingkat Maman. Wajahnya cukup ganteng, tapi orangnya rada kecil untuk cowok. Tebakanku tingginya cuma 160 saja. Tapi badannya jadi. Maklum, dia kubuat jadi teman sparringku di kelas tinju dan fitness. Dia lulus SMA, ingin kuliah, tapi nggak ada biaya. Lalu jadilah dia sopirku.  "Santai aja, Man. Tapi kalo nabrak gue timpe lu. Mobil mahal nih." "Iye, bos (dari dulu manggil aku dengan "Bos"). Udah, ente tidur aja kayak Mbak Rara. Ane jagain mobilnye. Lagian kalo kagak mahal, bukan mobil ente dong. Hehehe" "Nah lu tau tuh. Hehehe. Bisa aja lu, Man. Gue kasih bonus deh lu. Gaji lu gue potong 25%." "Waduh, bos. Apa kata bos aja dah. Ma kasih ye, bos!" Sambil ngomong gitu dia nengok ke belakang sambil matanya melirik ke paha istriku yang terbuka 1/2-nya akibat rok mini putih nan tipis itu. Kudiamkan saja.. penisku malah tegang. Aku rasa aku benar-benar punya kelainan seks.  *****  "Hei, Son!" aku sedikit berteriak ke arah sahabatku yang celingukan mencari-cari kami di Fountain Lounge. Kulihat Ayu berpenampilan cukup seksi dengan gaun malam coklat muda panjang sampai ke tengah betisnya, tapi dengan belahan cukup dalam sampai ke tengah pahanya. Waktu duduk ia menyilangkan kakinya dan posisiku cukup jelas untuk melihat paha putih mulusnya yang sedikit tersingkap. "Rom, mata lu juling banget lihat paha bini gue." Sonny menyentakku. Sialan nih orang, pikirku. "Ah, nggak.. gue kan dikasih lihat, bukannya ngelihat. Banyak bedanya lho." Kami pun berderai-derai tertawa. Kulirik istriku, Rara, hanya mesem-mesem aja. Mungkin gondok juga kali dia. Rara juga terlihat seksi dengan celana hitam ketat dan baju hijau muda tanpa lengan yang berdada agak rendah. Ditambah sepatu hak tinggi hitamnya, dia kelihatan sangat sophisticated. "Bini lu makin mengkilap aja nih, Ren. Ra, peju Si Reno cocok buat lu ya?" Sonny menyambar cepat. Memang begitulah orangnya. Bicaranya kacau abis. "Gila lu, Son. Kalo orang denger, dikirain elu mabok kali." Rara menyahut kesal, tapi tetap bercanda, karena sudah tahu adat dan gayanya Sonny.  Kami pun minum-minum sambil ngobrol ke sana-kemari dengan serunya. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 11 pm. Aku bangkit pengen pipis. "Gue ke toilet dulu ah. Birnya mulai bekerja nih," kataku santai. "Gue juga, man. Cewek-cewek tunggu di sini ya. Kalo ada yang nawar, kasih harga tinggi. Nanti Om Sonny yang atur persenannya buat you berdua. Hahahaha." "Mau pipis aja kok heboh sih kamu, Mas." Intan berkata sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dan memandang suaminya, Sonny, dengan tatapan setengah tidak percaya. "Cepetan ya. Nanti ada yang nawar beneran, baru tahu rasa."  Di toilet aku melirik Sonny yang sedang pipis di sebelahku, dan bilang, "Son, gue rasa gue punya kelainan seks. Gue punya fantasi pengen ngeliat bini gue digituin sama cowok laen. What do you think, man?" "Yang bener lu? Hehehe, dari dulu gue udah rasa lu rada maniak. Tapi baru sekarang gue yakin. Ini fantasi dikala horny aja apa beneran?" "Gue yakin ini beneran." "Sarap lu ye. Gue bantuin deh lu. Mau kagak?" "Rara sama lu? Bisa-bisa gue impoten ntar abis ngeliat. Thanks but no thanks, bro. Hehehe. Kenapa? Lu horny ya ngeliat bini gue? Sama dong. Hahaha." "GR lu. Mau kagak? Gue banyak pesenan laen nih. Ini antara temen aja, free trial, gitu. Hahaha." "OK." "Hah? OK? Bener nih ya. Awas lu nyesel. Tapi bini gue gimana? Kagak boleh buat lu, setan. We're not exchanging anything here, buddy." "Yah, terserah lu lah. Tapi gue pesen satu aja: pake kondom." "Off course, my man. You think I'm dumb?" "Yes. Hehehe. Let's go back out. Caranya gue serahin sama lu aja." "Sip. Let's go." Sekembalinya kami dari toilet, kulihat para istri kami sedang asik ngobrol dengan tiga orang lelaki keturunan India. Ayu diapit oleh dua orang dan yang seorang lagi duduk di sebelah Rara. Dari gayanya, kami tahu bahwa India-India iseng itu mengira istri-istri kami adalah cewek-cewek gampangan. Tangan seorang yang duduk di sebelah Ayu malah sudah diletakkan di atas paha Ayu. Kulihat Ayu mencoba menepisnya, tapi tidak dengan sepenuh hati. Mungkin dia suka juga? Yang duduk di sebelah Rara masih agak sopan, dan hanya memeluk bahunya. Kulihat Rara agak menjauh sedikit dan melotot galak ke arah India gokil itu.  "Wow, dude.. bisa keduluan sama India-India bangsat itu nih, gue." Sonny nyeletuk asal sambil bergegas ke arah Ayu dan Rara. Aku mengikutinya perlahan. Kupikir, the more, the merrier. Kulihat Sonny berbicara sesuatu dengan orang-orang itu, dan lalu mereka ngeloyor pergi sambil tertawa-tawa. Kedua istri kami pun ikut tertawa lebar.  "What's up, Son?" tanyaku setelah duduk lagi, kali ini di sebelah Ayu. "Nggak, gue bilangin aja kalo dua cewek ini udah kita sewa buat seminggu. Udah lunas, pula. And we're sorry but we're not sharing them with anybody." "Emang gila deh lu, Son." Rara berkomentar sambil masih tertawa. "Tapi suka kaann.." Sonny memandangi wajah Rara begitu dekatnya. Rara jadi rada kikuk, dan kulirik Ayu malah mesam-mesem doang. "Idiihh.. apaan sih lu. Jauhan dong.. mulut lu bau. Jangan deket-deket muka gue. Reenn.. tolong dong. Temen kamu sinting nih. Minumnya cuma segelas, maboknya kayak minum sepetii."  Tawa kami meledak mendengar ucapan Rara. Dan kira-kira pukul satu, kami memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, Sonny sempat membisikiku, "Ren, besok siang gue ke rumah lu. We will start to realize your fantasy, man." Penisku langsung tegang membayangkan apa yang akan terjadi nanti.  *****  Pukul 11 siang bel rumahku berbunyi. Aku sedang menonton TV di kamarku. Rara mungkin sedang membantu Mbak Wani, salah seorang pembantu RT kami memasak makan siang kami. Aku mengintip dari kamarku yang di lantai dua yang kebetulan menghadap ke jalan dan ke pagar rumahku. Sonny sudah di depan muka rumah bersama Ayu membawa keranjang berisi jeruk dan pisang. Segera aku bergegas turun dan membukakan pintu utama rumah kami.  "Siang, bos. Wah, gue kirain elu belom mandi. Ternyata sudah keren. Makanannya udah ready nih?" Si Sonny nyerocos begitu melihatku di pintu muka. "Ampirlah. Masuk yuk. Wah, bawa pisang nih." Langsung kuambil keranjang buah itu dari tangan Ayu dan kucomot sebuah pisang yang langsung saja kumakan. "Raa.. Mas Sonny dan Mbak Ayu udah dateengg." Setengah berteriak aku memanggil istriku yang sedang masak di dapur. Rara melongokkan dari arah dapur. Astaga! Ternyata dia masih memakai baju tidurnya yang berupa kaos you-can-see dan hot pants warna biru muda dengan kaki telanjang. Bodynya yang aduhai hanya tertutup sepertiganya saja kalau begini. "Bentar ya, sodara-sodara. Aku masih masak nih. Yu, bantuin gue yuk! Cobain nih kurang apa." Rara menyahut dengan semangat. Ayu langsung ngeloyor masuk dapur. Aku perhatikan Si Ayu memakai rok span warna merah darah dan kaos tanpa lengan warna kuning muda. "So, what's up, my brotha, what do you have in mind?" Aku langsung saja sambil mengedipkan mataku ke Sonny yang duduk bersamaku di ruang tamu. "Just chill, bro. I told you I'll handle it, I will handle it." Sonny mengangguk yakin kepadaku.  Nggak lama kemudian.."Cowok-cowok, lunch is served." Ayu memanggil kami di ruang tamu dengan gaya seorang chef kawakan dengan celemek dan serbet makan yang disampirkan di lengannya sambil setengah membungkuk. "Nah, gitu dong. Although I'd rather eat you, love." Sonny berkata begitu sembari beranjak bangun menuju ke ruang makan sambil mencubit pipi istrinya mesra. Aku meringis saja. "Kalian makan duluan deh. Gue mau mandi dulu sebentaar aja." Kata Rara sambil lari kecil naik tangga ke kamar kami. "OK, ma'am. Tapi kita tungguin deh, asalkan beneran cuma sebentaar aja." Sonny menggoda istriku. Istriku meresponnya dengan memeletkan lidahnya ke arah Sonny. "Lu diam di sini dulu, ya. Nanti kira-kira lima menit, lu susul gue ke kamar lu. OK?" Sonny membisikiku. Ayu kebetulan sedang ngobrol dengan Mbak Wani dan tidak melihat ke arah kami. "Hah? Sinting apa lu? Tapi whateverlah. OK." Kataku perlahan.  Benar, kira-kira lima menit setelah Sonny naik ke kamarku, aku menyusulnya. Setibanya aku di depan pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.. wow.. kulihat Sonny sedang mengintip Rara yang sedang melucuti bajunya yang hanya dua lembar itu satu persatu.  "Goddamn, bini lu bodynya bikin gue geregetan aja." Bisik Sonny. "Eh, monyet, gue kagak pernah minta lu ngintip. Sial, lu." Aku agak kesal juga, merasa dikerjai. "Tenang, broer. Ini step by step. Let the pro do it. You, horny bastard, just shut up and sit tight." "Gue hajar lu. Kalo dia teriak, satu rumah denger, kita bisa cilaka, sompret." "Soon! Reenn! Mana sih kalian?!" kudengar Ayu berteriak memanggil dari bawah. Istriku juga pasti dengar, tapi cuek saja, lalu dengan bertelanjang bulat masuk ke dalam bath up, siap-siap mau mandi. Kami mashi terus mengintip. "Lu turun dulu ke bawah, tenangin bini gue, OK?" bisik Sonny. "OK." Aku beranjak perlahan pergi. Nggak tau mau ngomong apa ke Ayu, tapi penisku sudah tegang abis, seperti mau pecah rasanya.  "Yu, Si Sonny lagi nonton basket di kamar gue. Seru juga sih, lagian Rara kan masih mandi. Lu mau nonton juga?" Aku yakin Ayu pasti nggak akan berminat, karena dia paling benci sama yang namanya pertandingan basket. Konyol, katanya. "Nggak ah, gue di sini aja nonton TV di bawah. Buruan dong. Kan gue juga lapar nih." "Beres, manis." "Genit lu ya kalo nggak ada siapa-siapa." Ayu menyahut sambil tersenyum manis. Aku nyengir aja, sambil lari lagi naik ke kamarku.  Sampai di sana, aku masuk dan kukunci kamarku perlahan. "Gimana, Son?" "Udah selesai mandi tuh. Wuih, gila, gue ngaceng berat nih, pren. Kagak nyesel nih lu?" Aku diam saja. Nggak lama Rara keluar dari kamar mandi, seperti kebiasaanya, telanjang total hanya bercelana dalam saja. Rambutnya masih basah karena keramas. "Aahh!" Rara menjerit kaget setengah mati melihat ada Sonny di situ. Dia mau lari lagi masuk ke kamar mandi, tapi tangan Sonny cepat menangkapnya. Rara meronta-ronta dan aku diam saja sambil menelan ludah. "Tenang, sayang.. tenang.. gue di sini cuma mau bantuin lakilu memuaskan fantasinya." Sonny berujar perlahan sambil tangannya tetap mencengkram tangan Rara. "Ren, kamu bener-bener gila ya. Ini apa-apaan sih?" Rara marah sekali melihat ke arahku. Aku cuma membuang muka saja. "OK, karena kamu benar-benar sinting, aku juga bisa sinting. Tapi jangan menyesal nanti." Rara berkata begitu sambil memeluk Sonny dan mencium bibirnya walaupun masih agak ragu. Tangan mereka bergerilya kemana-mana. Buah dada Rara yang ranum menjadi target bibir dan lidah Sonny yang dengan bernapsu menjilat dan menyedotnya. Rara menggelinjang nikmat. "Mmhh.. Son.. remes dong Son.. pelan aja.. ahh.." Rara rupanya naik juga birahinya.  "Mmhh.. yeaahh.." Sonny mendongak terpejam saat Rara meremas penisnya dari balik celana jeansnya. "Buka aja, sayang.." Aku sudah napsu berat, kukeluarkan penisku, dan mulai mengocoknya sambil masih berdiri. Kulihat Rara jongkok di depan Sonny, masih di depan pintu kamar mandi yang terbuka sambil mengeluarkan penisnya dari balik resleting dan mulai menyepongnya habis-habisan. Lidahnya bermain di kepala dan kedua buah pelir Sonny. Dikulum, dihisap, dijilat, you name it, she is doing it. Dia melakukannya sambil melirik Sonny dan aku bergantian.  "Isep, sayang.. yeaah, gitu.. uuhh.. bini lu hebat, man. Hebaatthh.. aahh.. jebol deh gue.. aarrghh!" Sambil berkata begitu, air mani Sonny tumpah di dalam mulut Rara yang langsung ditelannya. Melihat itu, aku nggak tahan lagi, dan air maniku pun langsung menyembur ke lantai. Lemas, aku terduduk di ranjang. Rara pun bangkit berdiri sambil memandang Sonny. "Enak, Son? Hmm?" kata Rara setengah berbisik. Sonny masih terpejam dan menganggukkan kepala sambil menelan ludahnya. "Kalah deh Si Ayu. Sedotan lu gila banget, Ra. Ren, you're a lucky motherfucker, you know?" "I know, man. Thanks berat. Ini rahasia kita aja ya." Sahutku santai. "Yuk, turun. Nanti Ayu curigation, lagi. Ra, kamu turun dulu, say. Bilangan Ayu "Pertandingan basketnya" sudah ampir selesai. Nanti kita nyusul." "OK." Rara bergegas berpakaian dan langsung turun. Aku sedikit lega karena sebagian fantasiku sudah terpuaskan. "Reno, my man. If you need us to go any further than that, just ask, buddy. Hehehe." Sonny ngomong gitu sambil membetulkan pakaiannya. Aku ngangguk saja, ikut berberes, dan membersihkan lantai yang terkena semburan maniku barusan.  *****  Seusai makan siang yang dipenuhi dengan canda dan obrolan seperti biasanya, kami bersantai di kebun belakang rumah kami sambil makan buah-buahan yang dibawa Sonny dan Ayu. Kami duduk di meja bundar yang ada di tengah-tengah kebun kami. Aku, Rara, Sonny, Ayu. Sonny melirik Rara yang pura-pura tidak melihatnya sambil terus ngobrol denganku dan Ayu.  Tiba-tiba Rara beranjak bangun. "Mau pipis", katanya. Sambil berdiri begitu, sambil tangannya mengelus penis Sonny. Kurasa Ayu tidak memperhatikannya karena sibuk berkomentar tentang bunga-bunga yang kelihatan indah sekali sore itu. Sonny memandangiku sambil nyengir. Kukedipkan mataku kepadanya sambil meladeni ocehan Ayu. Sejam kemudian mereka pamit pulang.  *****  "Do you like it?" aku bertanya pada istriku sebelum tidur malam itu. "Hmm? I think I do." Rara membalas menjawab sambil memeluk dadaku dan merebahkan kepalanya di dadaku. "Mau coba lebih lagi?" aku bertanya singkat. "Terserah kamu, sayang." Balasnya sambil mengelus penisku yang sudah berdiri. "Idih, kok udah ngaceng sih ininya?" katanya lagi sambil merogoh kedalam celana tidurku yang komprang tanpa celana dalam. Dia mulai mengelus-elus kepala penisku dan mulai mengocoknya perlahan.  "Ahh, baby.. I want you to fuck him." Kataku dengan napsu yang sudah naik. "I know, baby.." sambil berkata begitu, kepalanya menyusup kebalik selimut dan mengulum penisku. "This is what I did to him. Tell me how you like it.." Kurasakan air maniku segera terkumpul akibat sedotan, jilatan dan kulumannya di penisku. "Sayang, kamu bakalan bikin aku keluar nih.. telan ya.. mmhh.. oohh." Gila, belum pernah aku keluar secepat itu. Kurang dari 2 menit saja! Istriku memang luar biasa tehnik oralnya. Maniku ditelannya. "Baby, I need you to fuck me. Pleasee.." Rara menggelinjang sambil tangannya meremas toketnya sendiri dan lalu mengelus vaginanya yang sudah basah. Sejak kapan dia nggak pakai baju lagi? "Aku nggak mau.. the next fuck you'll get will be from Sonny, babe." Aku berkata dengan kejam sambil membereskan celanaku dan tidur pulas.  *****  Dua hari kemudian, aku masih belum bersanggama dengan Rara. Malam harinya, sekitar pukul 7, Sonny menelponku saat aku baru selesai mandi. "Ren, bini gue lagi ke Yogya, ada sodaranya yang meninggal. Gue udah cari alasan biar nggak ikut. So, I'll have 2 days Off. What's up?" "Perfecto. Si Rara udah horny berat nih. Nggak gue masukkin udah dua hari. Lu dateng deh sekarang." "Say no more, buddy." Sonny menutup teleponnya. Kira-kira setengah jam kemudian dia sudah sampai. Rara yang membukakan pintu.  Begitu melihat Rara, Sonny langsung memeluk dan mencium lehernya. "Hello, doll. Miss me?" Ini orang cool juga, pikirku. "Mmhh.." Rara menggelinjang senang. "A lot. You come for me, or what?" "No, I come for my buddy. YOU will make me cum." Sonny menyeringai. "And I will make you cum with me." Sonny langsung menggandeng Rara ke kamar tidur kami. Aku mengikuti dari belakang.  "Strip for us. And masturbate, but stop when you are about to cum." Sonny memerintah Rara sesampainya di kamar. Aku menyetel CD jazz yang lembut untuk menunjang suasana. Rara melucuti pakaiannya satu persatu sambil meliuk-liukan tubuhnya yang sintal mulus itu. Mau tidak mau, kami berdua menelan ludah berkali-kali. Lalu setelah bugil total, ia membelakangi kami dan membungkuk. Dengan tersenyum ia menoleh ke arah kami dan menjilat jari tengah kanannya. Lalu dengan sensualnya ia mengelus sepanjang bibir vaginanya dan dengan perlahan memasukkan jari tersebut ke dalam vaginanya keluar masuk kira-kira lima kali.  "Ouhh.. it's so wet, boys.." katanya seraya menjilat kembali jari itu. "And it taste so yummy.." Kami kembali menelan ludah dengan tangan kami mengelus penis kami masing-masing. Ia kemudian berbalik menghadap kami, dan berjalan menghampiri Sonny. Ia lalu berjongkok di antara selangkangan Sonny yang duduk di pinggir ranjang bersamaku menonton aksinya. Celana Sonny dibukanya dan penisnya dielus dan diremas lembut.  Kulihat kepala penis Sonny sudah sangat basah, dan makin basah karena sekarang Rara mulai menjilatinya. "Ahh, Raa.. terus sayanghh.." Sonny menggelinjang nikmat dan aku mulai mengocok penisku perlahan. "Enak, Son? Hmm? Mau diisep lagi kayak kemarin?" Rara dengan seksinya melirik ke arah Sonny. "Yess.. please, babe.. suck my cock.." Tidak perlu disuruh dua kali, Rara mengulangi aksinya. Tapi kali ini hanya sebentar saja. Mungkin dia takut Sonny keburu keluar lagi.  Tidak berapa lama kemudian, Rara menelentangkan tubuhnya di lantai kamar yang berlapis kayu sambil meremas-remas dadanya, dan tangan yang satunya bermain lincah di vaginanya. Kami ikut bertelanjang bulat sambil duduk di sebelah kanan dan kirinya.  Beberapa saat kemudian Rara mulai mengerang dan menggelinjang. Napasnya terengah-engah dan mukanya memerah. Pinggulnya terangkat-angkat dan membuat gerakan memutar perlahan. Remasan di dadanya mulai agak kasar. Puting susunya dipelintir olehnya sendiri, dan vaginanya mulai mengeluarkan cairan kental dan berbau khas. Dia sudah diambang orgasme. Sonny dengan sigap menangkap kedua tangannya dan langsung menindihnya.  Dengan satu hentakan, penisnya menyeruak ke dalam vagina istriku. Pinggul Sonny mulai bermain. "Aahh.. aahh.. yess.. oouuhh.." Rara meracau nggak karuan. Aku juga hampir pingsan karena napsuku. Tanganku mengocok penisku dengan cepat. "Ohh.. Soonn.. kontol lu gede banget banget, sayang.. aahh.. ahh.. ahh.. gue mau sampe nih, Soonn.. oouugghh.. gue keluar, Soonn.. aarrgghh!" Rara menjerit-jerit merasakan nikmat yang menhantam seluruh sendinya. "Ra.. di dalam apa di luar.." Shit.. aku baru sadar kalau Sonny lupa pakai kondom! "Di mana, Raa?" Sonny mempercepat goyangannya. "Di luar, Son.. uuhh.." Rara udah lemas sehabis orgasme. "Wow.. anget banget, sayang.." ucap Rara lembut saat penis Sonny berkedutan di atas perut Rara yang putih dan rata. Tangan Rara cepat mengurut-urut penis Sonny yang sedang memuntahkan laharnya. "Ooh fuucckk.." Sonny ambruk di atas tubuh istriku. Aku juga mempercepat kocokanku dan nggak lama.. "Baby, I'm coming.." aku terengah-engah mengarahkan penisku ke mulut Rara. "Sini, sayang.. aku mau kamu punya.." Rara membuka mulutnya lebar dan kusemburkan maniku ke dalam mulutnya.. "Telen sayang.. yeaahh.. agghh!" Orgasmeku menghantamku dan penisku berkedutan di dalam mulut Rara. Dengan lembut Rara menjilati dan mengulum penisku.  Seluruh adegan itu memakan waktu hanya 1.5 jam saja. Sonny lalu pamit pulang segera. "Thanks, Son." Kataku waktu mengantarnya ke depan pintu. Rara sudah tertidur di kamar kelelahan. "Anytime, buddy. Memek bini lu luar biasa." "Ayu punya gimana? Emangnya nggak seenak Rara?" ujarku iseng aja sebenarnya. "Hehehe.. lu coba aja sendiri. My treat. Tapi itu kalau dia OK. Later, man. Let's do lunch tomorrow." Aku tersenyum kecil dan menganggukan kepala.  *****  Besoknya aku makan siang bersama dengan Sonny di daerah Kemang. Sambil ngobrol ngalor ngidul, Sonny berkata, "Besok malam Ayu sampai di rumah. Still interested?" "Well, gue sih OK banget kalo lu berdua OK juga. Rara gimana?" kataku pelan. "Ajak aja besok. Gue punya rencana nih. Kita bisa nonton live show barangkali. Hahaha." Deg. Jantungku berhenti sejenak. Sonny memang gila, kayaknya. Tapi kegilaan yang mengasyikan. "Are you serious? Gimana caranya? Mana mau mereka?" "Serahin aja sama Om Sonny. Lu tau beres dan ngecret aja deh pokoknya. OK ya. Gue musti balik ke kantor nih. Masih ada urusan. See you tonite." "See you, bro."  *****  Akhirnya malam yang kunantikan tiba juga. Sekitar pukul 9 aku dan Rara sudah sampai di rumah Sonny dan Ayu di Permata Hijau. Kukatakan pada Rara bahwa another fantasy is waiting. Dia excited sekali dan siap dengan busana yang sangat frontal memamerkan keseksian tubuhnya. Kaos hitam yang hanya berupa kemben seperut dan rok mini hitam ketat dari bahan kulit membalut tubuhnya. Sepatu hak tinggi hitam menghiasi sepasang kaki panjang mulusnya.  Ayu membukakan pintu rumahnya dengan pakaian yang tidak kalah seksinya. Rok sebetis dengan belahan di bagian belakang yang dalam ke tengah pahanya dan atasnya kemeja tipis longgar tanpa BH sehingga kami dengan jelas melihat putingnya yang tegak menantang.  "Come in," katanya seraya tersenyum manis pada kami. "Kita main strip poker malam ini. I heard you guys were having a grand time while I was gone. Curang! Kok nggak ngajak-ngajak sih?" Kami cuma bengong saja mendengar penuturannya. "Emangnya OK buat lu, Yu?" Tanyaku. Rara sudah merah padam wajahnya. "Sure, sex is a sport. And I need to have some exercise. Hahaha." Busyet, udah ketularan lakinya nih, pikirku.  Tanpa ragu-ragu, Ayu menggandeng Rara dan mencium pipinya yang masih kemerahan karena kaget campur malu. "Come on, girl.. don't be like that. What are best friends for? To fuck each other brains out!" tawanya berderai-derai disambut dengan tawa Sonny dari dalam rumah. "Bisa aja lu, Yu.." Rara yang sudah santai kembali sekarang menyahut. "Abis ini nih, Reno, gara-garanya." "Tapi suka kaan.." sekali lagi Sonny yang tiba-tiba sudah disamping Rara mendekatkan wajahnya ke wajah Rara. "He-eh. Suka banget." Rara berkata begitu sambil meremas penis Sonny. "Kontol laki lu ini bikin gue kelojotan kemaren malem nih, Yu." "Kalo gitu kontol lakilu musti bikin gue kelojotan dong malem ini, biar satu sama." Ayu berkata sambil melirik nakal padaku. Aku jadi tertawa kecil, namun penisku sudah tegang sekali rasanya. "But first let's have dinner!"  *****  "Mmhh.. Ren.. jilat terus itil gue.. aahh iyaa.." Ayu mendesah lembut ketika aku mulai menjilati kelentitnya yang sudah membesar di atas sofa living roomnya. Rara dan Sonny menonton sambil keduanya mengelus-elus sendiri tubuh mereka yang sudah telanjang bulat. "God.. suck my clit, honey.. yess.. you're gonna make me come.. oouuhh!" Jeritan lirih Ayu cukup keras. Untung saja para pembantu RT sudah di perintahkan untuk pergi keluar rumah malam ini. Jadi hanya tinggal kami berempat saja. Kusodok-sodokan lidahku kedalam vagina Ayu yang sedang mengeluarkan cairan kenikmatannya. "Tell me what you want, babe." Kataku sekenanya. Penisku sudah mulai mengeluarkan cairan dan terasa hangat. "I want you to fuck me and make me cum.. do it now.." Ayu meracau sambil menggeleng-gelengkan kepalanya akibat terserang birahi yang bertubi-tubi.  Kulirik Rara dan Sonny yang sedang bergumul 69 di lantai di bawah sofa itu. Erangan dan rintihan mereka cukup membuatku dan Ayu semakin beringas. Segera kuposisikan penisku ke lubang kewanitaannya. Bless.. aahh.. hangat sekali di dalam sini. Ayu dengan ahlinya mengencangkan otot vaginanya saat aku mulai menggenjotnya. Setelah beberapa kali ayunan pantatku, aku rasakan maniku mulai membludak.  "Yu.. gue bisa nggak tahan kalo lu gituin terus memeknya.. oohh.. uuhh.." aku mulai merasakan denyutan di pangkal penisku. "Hmmhh.. biarin.. gue juga udah dikit lagi sampai kok.. hh.. lepas di dalem aja.. gue lagi aman kok.. aarrghh!" Ayu menjerit keras karena tiba-tiba aku menggenjotnya keras berkali-kali. "Shit.. Yu.. terima nih, sayang.. shiitt.. aahh.. aahh.. gilaa.." Aku ikut teriak karena orgasmeku datang secara tiba-tiba. "Renn.. ohh.. I'm cumming, honey.. I'm cummiinngg.. iihh.. oohh.." Denyutan memeknya sangat terasa memijat penisku. Aku ambruk di atas tubuh Ayu dan kami berdua saling berpagutan French kissing dan kuhisap dan kujilati toketnya yang montok berkeringat. "Hhmm.. udah dulu dong, Ren.. ntar gue naik lagi nih." Kata Ayu lembut sambil menggelinjang geli. "That's the idea, babe.. lihat tuh Rara sama Sonny.." bisikku di telinganya sembari menggigit kecil kupingnya.  Rara dan Sonny masih saling menjilat dan menghisap dengan serunya dalam posisi 69. Tubuh Rara mulai bergetar, mengerang-erang, dan tangannya mengocok penis Sonny dengan cepat. Tiba-tiba, Sonny yang berada di bawah mendorong tubuh Rara ke samping. "Stop dulu sayang.. hhuuhh.. stop.." Sonny berdiri perlahan-lahan. "Kenapa, Son? Nggak enak ya? Ayo dong.. tadi gue udah ampir tuh.. aaduuhh.. jangan gini dong.. tega deh lu.." Rara merajuk bercampur birahi yang membuat kepalanya pusing. "Hehehe.. you can cum, but Ayu is the one that will do it to both of us." Deg. Jantungku berdegup kencang. Jadi ini maksudnya Si Sonny dengan live show.  Ayu tersenyum simpul mendengar itu. "Ra, sekarang elu kangkangin muka gue. I'll take you there, honey." Ayu berkata dengan genitnya. Rara yang sudah tidak sanggup lagi, diam sejenak, lalu mengangkangi wajah Ayu yang masih berkeringat. "Aawwhh.. make me cum.. please make me cum.. ohh yeaasshh.. isep itil gue, sayang.. iyaahh gitu.. iyaahh.." Ayu menjerit-jerit kecil merasakan permainan lidah dan bibir Ayu di vaginanya. Sementara itu Sonny kulihat memposisikan penisnya di vagina Ayu yang masih melelehkan air maniku. "Aahh yess.. enak, Masshh." Ayu mulai merasakan genjotan suaminya. "Honey.. I'm cumming.. oohh.." Rara mengerang dan mendesah panjang saat orgasmenya datang. Pinggulnya begoyang maju-mundur menggosokkan vagina dan kelentitnya ke bibir Ayu yang siap menyedot-nyedot cairan vagina Rara yang mengalir deras. Tubuh Rara yang basah berkeringat bergetar hebat dan tangannya meremas keras buah dadanya yang bergelayut manja.  Kulihat paha Sonny mulai bergetar hebat dan ia memeluk tubuh Rara dari belakang sambil terus menghentak-hentakan penisnya ke vagina istrinya. Suara becek berkecipak di dalam vagina Ayu seksi sekali. "Oohh.. fuckin' fuck.. aku keluar, sayaanghh.." Sonny memuntahkan lahar panasnya yang pasti bercampur dengan milikku di dalam vagina Ayu. Tubuh Sonny berkelojotan dan tangannya meremasi buah dada Rara yang masih menikmati orgasme dashyatnya mengangkangi wajah Ayu. "Yess.. anget sekali punya kamu, Masshh.. hheehh.." Ayu memejamkan matanya menikmati sensasi yang luar biasa. Bibirnya belepotan cairan Rara dan vaginanya berlelehan air maniku dan suaminya. Aku terhenyak lemas di bawah sofa dengan penis terkulai lemas dan perasaan sangat puas.  *****  Keesokkan paginya di rumah kami, aku terbangun mendapati Rara yang tengah memeluku dari belakang. Kubalikan tubuhku, dan kulihat ada senyuman lembut di wajahnya. "Ra, baby?" "Hmm? Udah bangun, sayang?" istriku menjawab lembut. "Are you happy?" tanyaku tulus. "Very. Sini, bobo lagi.. aku pengen dipeluk terus sama kamu. I love you so much, sayang."
Baru tiga bulan aku menikah dengan seorang gadis cantik keturunan Chinese bernama Tiara, pangilannya Rara. Aku sendiri pria keturunan Chinese bernama Reno, dengan tinggi badan 185 cm, atletis. Aku memimpin suatu perusahaan yang aku rintis sendiri bersama dengan kawan-kawanku dan lumayan sukses. Usiaku saat ini 28 tahun. Tiara adalah seorang gadis yang berwajah oriental dan cantik, yang berusia 25 tahun. Dengan kelembutannya, dan tinggi badan 170 cm, berat 47 kg, kulit putih mulus dan dada berukuran 34C, membuatnya sempurna untukku. Pernikahanku yang baru seumur jagung ini tentulah sangat dipenuhi oleh kemesraan dan kegembiraan yang nyata dalam kehidupan kami. Fasilitas rumah besar dan dua mobil mewah dari orang tua kami melengkapi semuanya itu.

Kehidupan sex kami juga cukup luar biasa, dimana hampir setiap malamnya (dan terkadang paginya) kami lalui dengan cumbuan, foreplay dan orgasme demi orgasme yang sangat memuaskan kami berdua. Tapi aku punya suatu fantasi yang agak keterlaluan sebetulnya; yaitu aku ingin menonton istriku yang cantik ini disetubuhi oleh lelaki lain yang dalam bayanganku adalah seseorang yang berusia muda, ganteng, tegap, dst. Aku ingin melihat istriku mengalami orgasme dan memberikan kepuasan kepada lelaki itu di hadapanku. Fantasi itulah yang biasanya selalu berhasil mengantarku ke orgasme yang hebat, baik pada saat aku sedang bersanggama dengan istriku, maupun pada saat aku sedang melakukan onani seorang diri.

Pernah kusampaikan kepada istriku pada saat kami sedang berhubungan seks di suatu malam, dan tampaknya fantasi itu juga memicu birahinya, terbukti dengan bertambah terangsangnya dia saat itu. Ceritanya begini.. Pada saat posisinya di atas, dan penisku berada di dalam vaginanya dan sedang seru-serunya dia bergoyang, kuremas lembut buah dada 34C-nya dan kukatakan dengan napas terengah-engah karena kurasakan orgasmeku hampir tiba dan vaginanya juga sudah mulai mencengkram batang penisku.

"Sayanghh, aku ingin melihatmu ngentot sama cowok lainhh.. aahh..".
"Hmmhh? Emangnya boleh, say? Hmmhh?" Katanya sambil bergoyang dan memutar mutar pantatnya yang membuatku mendelik keenakan.
"Kalo boleh kamu mau? Ohh baby.. memek kamu ngejepit nihh. Ahh.." ujarku lagi sambil terus meremas dan mengelus putingnya yang sudah sangat tegang dan merah kecoklatan itu.
"Ahh.. tau ahh.. kamu ngaco ajahh.. ohh baby, kontol kamu udah makin keras. Gede banget, say. Oughh.."
"Aku pengen lihat kamu sepongin dia dan dia jilatin memek kamu.. Ouuhh yess.. terus sayangghh, puter terus pantat kamu.. aahh."
"Terushh? aahh.. kamu nggak cemburu emangnya? Ahh.. oohh.. gila, kontol kamu enak banget sih, say?" Goyangannya makin hot dan seru, sedangkan vaginanya makin mencengkram keras batangku.
"Nggak, babe.. aku nggak cemburu.. oohh.. aku udah mau sampai nih.. aku pengen kamu dientot cowok lain sambil aku tontonin.. aahh baby.. aku keluarr.. aagghh.."
Maniku menyembur di dalam vaginanya dengan deras sambil tanganku mencengkram erat pinggulnya. Dan tampaknya hal itu dan fantasiku ikut memicu orgasmenya juga.
"Ohh yess.. oohh yess.. aku keluar juga, sayangghh.. aagghh.." Tubuh mulus istriku ambruk di atas tubuhku, matanya terpejam dan vagina berkedutan cukup lama juga, sambil kupeluk dan kuelus punggung dan pantatnya.

Beberapa saat setelah itu, dengan tubuh basah berkeringat, kami berciuman mesra. Hawa AC yang dingin merasuki tubuh kami. Dengan gayanya yang khas dan manja, Tiara menyusup kebalik selimut dan tidur di dadaku. Tangannya mengelus-elus dadaku dan aku mengelus rambutnya, meresapi apa yang baru saja kami nikmati bersama.
Tiba-tiba dia sedikit mengangkat tubuhnya dan memandangku dalam-dalam, lalu berkata, "Yang kamu bilang tadi beneran apa cuma lagi napsu doang sih, say?" Tangannya yang iseng menarik-narik jembutku yang kusut dan basah terkena cairan vaginanya campur keringat.
"Emm.. beneran dong. Kenapa?" Aku iseng juga dan kupencet hidungnya yang mancung. Dengan bercanda dia berontak dan pura-pura mau menggigit tanganku yang iseng tadi.
"Gila ih. Itu kan nyeleweng dong artinya? Kok kamu malah nganjurin aku buat nyeleweng?"
"Nyeleweng atau nggak itu sih terserah deh. Namanya juga fantasi. Boleh dong?" Aku menjawab sekenanya lalu beranjak bangun dari ranjang mau ke kamar mandi. "Udah, mandi dulu, yuk? Udah gitu kita bobo." Dia kembali tiduran dan bengong memandangi langit-langit kamar.

*****

Besok paginya aku terbangun oleh ciuman di bibirku. Istriku tampak baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah dan tubuh hanya terbalut g-string putih.
"Jam berapa nih, kok udah keren?" kataku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Yee.. udah jam 6 lho. Ayo bangun, nanti telat ngantor. Sikat gigi gih. B-a-u deh mulutnya. Hihi."
"Salah sendiri nyium. Pasti bau dong. Namanya juga fresh from the oven. Ngapain pake g-string segala?"
"Aku mau pake rok mini putih hadiah dari mami kamu. Itu rok rada tipis deh kayaknya. Kalo pada cel-dal biasa nanti jelek."
"Apa boleh ngantor pake rok seksi macam gitu?" tanyaku polos.
"Nggak tau juga. Biar aja ah. Model-modelnya kan juga suka pake mini-minian begini. Aku nggak mau kalah ceritanya. Hahaha." Rara bekerja di salah satu perusahaan advertising terkemuka di Jakarta, yang memang sering menggunakan jasa para model (amatir dan pro).

Aku nggak jawab lagi dan langsung lompat ke kamar mandi yang kebetulan ada di dalam kamar tidur kami. Iseng, kucolek buah dadanya yang masih telanjang dan selalu bikin mataku jelalatan dan penisku tegang, sambil tangan yang satunya lagi mengelus buah pantatnya.
"Idih, amit-amiit! Pelecehan seksual tuh, tau! katanya pura-pura marah, sambil nyentil penisku. Aku meringis kesakitan.
"Aduh.. atit ya, cayang?" katanya menyesal sambil mengelus penisku. "Sini aku sembuhin.." Sambil berkata begitu, dia melorotkan celanaku dan penisku yang memang tegang sejak bangun tadi, diremas dan dikulumnya sambil lidahnya berputar di kepala penisku.
"Oh my God.." aku kaget banget api seneng juga. Tapi baru beberapa isapan, dilepasnya lagi.
"Udah ah.. nanti dia GR. Kalo GR, dia suka pusing dan muntah lho!" katanya sambil mengedipkan matanya lucu.
Aku jadi gemas dan penasaran, tapi kulihat jam terus bergerak, dan aku ada janji ketemu seseorang untuk breakfast. Oleh karenanya kubiarkan dia lolos kali ini, dan terus bergegas mandi.

*****

Tepat aku lagi mulai meeting direksi di kantorku jam 2 siang, telepon genggamku berbunyi. Tiara meneleponku.
"Halo?"
"Hi, sayang.. lagi ngapain kamu?"
"Aku lagi meeting nih. What's up, babe?" Para anggota direksiku saling lirik dan tersenyum.
"Pak Romi mesra banget ya? Maklum pengantin baru sih." Pak Jerry, direktur operasiku bercanda sedikit. Aku cuekin saja.
"Sayang, nanti malem temenku Si Ayu ngajakin double date di Fountain Lounge Grand Hyatt." Tiara menjawab renyah. "Mau ya? Pleasee.."
"Acara apaan sih? Ya OK lah. Dia mau traktir emangnya?"
"Tauk. OK ya, Jam sembilan kita ketemu mereka di sana. Have fun with the meeting, say. Bilangin direkturmu jangan iseng."
"Iya, iya. See you, babe." Kututup teleponku sambil melotot ke Pak Jerry yang tetap cengar-cengir.

Ayu ini sebenarnya adalah istri dari sahabatku, Sonny, yang adalah putra satu-satunya dari seorang pilot senior Garuda Indonesia yang sekarang menjabat sebagai direktur di salah-satu perusahaan penerbangan. Beliau ini masih keluarga keraton Solo, tapi sudah amat sangat liberal dan sudah nggak ada lagi tanda-tanda kekeratonannya. Apalagi Sang Sonny sendiri yang cuek luar biasa di dalam pergaulan dan topik pembicaraan. Kalau obrolan yang menyerempet soal seks, Sonny ini juaranya. Aku kenal dia sejak masih SMP di bilangan Menteng. Orangnya sangat ganteng dan berpenampilan macho. Perawakannya tidak jauh berbeda denganku, hanya dia lebih pendek sedikit saja. Ayu berperawakan rata-rata wanita Indonesia. Yang paling menarik darinya menurutku ialah bibir yang ranum dan matanya yang bulat cantik.

Sorenya kujemput istriku di kantornya di daerah Kuningan (kantorku sendiri di daerah Kebayoran Baru). Di perjalanan dia tertidur pulas sekali sambil merebahkan kepalanya di bahuku. Aku duduk sambil membaca majalah Times. Kulirik sopirku. Dia kelihatan mulai senewen dengan kemacetan Kuningan. Maklumlah hari Jumat sore. Sudah pasti rush hour gila-gilaan. Sopirku ini sudah menjadi sopir pribadiku sejak aku kelas 2 SMA. Aku sudah sangat akrab padanya. Dia adalah keponakan dari sopir papaku, usianya sekarang 34 tahun. Namanya Hermansyah, kusingkat Maman. Wajahnya cukup ganteng, tapi orangnya rada kecil untuk cowok. Tebakanku tingginya cuma 160 saja. Tapi badannya jadi. Maklum, dia kubuat jadi teman sparringku di kelas tinju dan fitness. Dia lulus SMA, ingin kuliah, tapi nggak ada biaya. Lalu jadilah dia sopirku.

"Santai aja, Man. Tapi kalo nabrak gue timpe lu. Mobil mahal nih."
"Iye, bos (dari dulu manggil aku dengan "Bos"). Udah, ente tidur aja kayak Mbak Rara. Ane jagain mobilnye. Lagian kalo kagak mahal, bukan mobil ente dong. Hehehe"
"Nah lu tau tuh. Hehehe. Bisa aja lu, Man. Gue kasih bonus deh lu. Gaji lu gue potong 25%."
"Waduh, bos. Apa kata bos aja dah. Ma kasih ye, bos!" Sambil ngomong gitu dia nengok ke belakang sambil matanya melirik ke paha istriku yang terbuka 1/2-nya akibat rok mini putih nan tipis itu. Kudiamkan saja.. penisku malah tegang. Aku rasa aku benar-benar punya kelainan seks.

*****

"Hei, Son!" aku sedikit berteriak ke arah sahabatku yang celingukan mencari-cari kami di Fountain Lounge.
Kulihat Ayu berpenampilan cukup seksi dengan gaun malam coklat muda panjang sampai ke tengah betisnya, tapi dengan belahan cukup dalam sampai ke tengah pahanya. Waktu duduk ia menyilangkan kakinya dan posisiku cukup jelas untuk melihat paha putih mulusnya yang sedikit tersingkap.
"Rom, mata lu juling banget lihat paha bini gue." Sonny menyentakku. Sialan nih orang, pikirku.
"Ah, nggak.. gue kan dikasih lihat, bukannya ngelihat. Banyak bedanya lho."
Kami pun berderai-derai tertawa. Kulirik istriku, Rara, hanya mesem-mesem aja. Mungkin gondok juga kali dia.
Rara juga terlihat seksi dengan celana hitam ketat dan baju hijau muda tanpa lengan yang berdada agak rendah. Ditambah sepatu hak tinggi hitamnya, dia kelihatan sangat sophisticated.
"Bini lu makin mengkilap aja nih, Ren. Ra, peju Si Reno cocok buat lu ya?" Sonny menyambar cepat.
Memang begitulah orangnya. Bicaranya kacau abis.
"Gila lu, Son. Kalo orang denger, dikirain elu mabok kali." Rara menyahut kesal, tapi tetap bercanda, karena sudah tahu adat dan gayanya Sonny.

Kami pun minum-minum sambil ngobrol ke sana-kemari dengan serunya. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 11 pm. Aku bangkit pengen pipis.
"Gue ke toilet dulu ah. Birnya mulai bekerja nih," kataku santai.
"Gue juga, man. Cewek-cewek tunggu di sini ya. Kalo ada yang nawar, kasih harga tinggi. Nanti Om Sonny yang atur persenannya buat you berdua. Hahahaha."
"Mau pipis aja kok heboh sih kamu, Mas." Intan berkata sambil mengeleng-gelengkan kepalanya dan memandang suaminya, Sonny, dengan tatapan setengah tidak percaya. "Cepetan ya. Nanti ada yang nawar beneran, baru tahu rasa."

Di toilet aku melirik Sonny yang sedang pipis di sebelahku, dan bilang, "Son, gue rasa gue punya kelainan seks. Gue punya fantasi pengen ngeliat bini gue digituin sama cowok laen. What do you think, man?"
"Yang bener lu? Hehehe, dari dulu gue udah rasa lu rada maniak. Tapi baru sekarang gue yakin. Ini fantasi dikala horny aja apa beneran?"
"Gue yakin ini beneran."
"Sarap lu ye. Gue bantuin deh lu. Mau kagak?"
"Rara sama lu? Bisa-bisa gue impoten ntar abis ngeliat. Thanks but no thanks, bro. Hehehe. Kenapa? Lu horny ya ngeliat bini gue? Sama dong. Hahaha."
"GR lu. Mau kagak? Gue banyak pesenan laen nih. Ini antara temen aja, free trial, gitu. Hahaha."
"OK."
"Hah? OK? Bener nih ya. Awas lu nyesel. Tapi bini gue gimana? Kagak boleh buat lu, setan. We're not exchanging anything here, buddy."
"Yah, terserah lu lah. Tapi gue pesen satu aja: pake kondom."
"Off course, my man. You think I'm dumb?"
"Yes. Hehehe. Let's go back out. Caranya gue serahin sama lu aja."
"Sip. Let's go."
Sekembalinya kami dari toilet, kulihat para istri kami sedang asik ngobrol dengan tiga orang lelaki keturunan India. Ayu diapit oleh dua orang dan yang seorang lagi duduk di sebelah Rara. Dari gayanya, kami tahu bahwa India-India iseng itu mengira istri-istri kami adalah cewek-cewek gampangan. Tangan seorang yang duduk di sebelah Ayu malah sudah diletakkan di atas paha Ayu. Kulihat Ayu mencoba menepisnya, tapi tidak dengan sepenuh hati. Mungkin dia suka juga? Yang duduk di sebelah Rara masih agak sopan, dan hanya memeluk bahunya. Kulihat Rara agak menjauh sedikit dan melotot galak ke arah India gokil itu.

"Wow, dude.. bisa keduluan sama India-India bangsat itu nih, gue." Sonny nyeletuk asal sambil bergegas ke arah Ayu dan Rara. Aku mengikutinya perlahan. Kupikir, the more, the merrier. Kulihat Sonny berbicara sesuatu dengan orang-orang itu, dan lalu mereka ngeloyor pergi sambil tertawa-tawa. Kedua istri kami pun ikut tertawa lebar.

"What's up, Son?" tanyaku setelah duduk lagi, kali ini di sebelah Ayu.
"Nggak, gue bilangin aja kalo dua cewek ini udah kita sewa buat seminggu. Udah lunas, pula. And we're sorry but we're not sharing them with anybody."
"Emang gila deh lu, Son." Rara berkomentar sambil masih tertawa.
"Tapi suka kaann.." Sonny memandangi wajah Rara begitu dekatnya. Rara jadi rada kikuk, dan kulirik Ayu malah mesam-mesem doang.
"Idiihh.. apaan sih lu. Jauhan dong.. mulut lu bau. Jangan deket-deket muka gue. Reenn.. tolong dong. Temen kamu sinting nih. Minumnya cuma segelas, maboknya kayak minum sepetii."

Tawa kami meledak mendengar ucapan Rara. Dan kira-kira pukul satu, kami memutuskan untuk pulang.
Sebelum pulang, Sonny sempat membisikiku, "Ren, besok siang gue ke rumah lu. We will start to realize your fantasy, man." Penisku langsung tegang membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

*****

Pukul 11 siang bel rumahku berbunyi. Aku sedang menonton TV di kamarku. Rara mungkin sedang membantu Mbak Wani, salah seorang pembantu RT kami memasak makan siang kami. Aku mengintip dari kamarku yang di lantai dua yang kebetulan menghadap ke jalan dan ke pagar rumahku. Sonny sudah di depan muka rumah bersama Ayu membawa keranjang berisi jeruk dan pisang. Segera aku bergegas turun dan membukakan pintu utama rumah kami.

"Siang, bos. Wah, gue kirain elu belom mandi. Ternyata sudah keren. Makanannya udah ready nih?" Si Sonny nyerocos begitu melihatku di pintu muka.
"Ampirlah. Masuk yuk. Wah, bawa pisang nih." Langsung kuambil keranjang buah itu dari tangan Ayu dan kucomot sebuah pisang yang langsung saja kumakan.
"Raa.. Mas Sonny dan Mbak Ayu udah dateengg." Setengah berteriak aku memanggil istriku yang sedang masak di dapur.
Rara melongokkan dari arah dapur. Astaga! Ternyata dia masih memakai baju tidurnya yang berupa kaos you-can-see dan hot pants warna biru muda dengan kaki telanjang. Bodynya yang aduhai hanya tertutup sepertiganya saja kalau begini.
"Bentar ya, sodara-sodara. Aku masih masak nih. Yu, bantuin gue yuk! Cobain nih kurang apa." Rara menyahut dengan semangat. Ayu langsung ngeloyor masuk dapur. Aku perhatikan Si Ayu memakai rok span warna merah darah dan kaos tanpa lengan warna kuning muda.
"So, what's up, my brotha, what do you have in mind?" Aku langsung saja sambil mengedipkan mataku ke Sonny yang duduk bersamaku di ruang tamu.
"Just chill, bro. I told you I'll handle it, I will handle it." Sonny mengangguk yakin kepadaku.

Nggak lama kemudian.."Cowok-cowok, lunch is served." Ayu memanggil kami di ruang tamu dengan gaya seorang chef kawakan dengan celemek dan serbet makan yang disampirkan di lengannya sambil setengah membungkuk.
"Nah, gitu dong. Although I'd rather eat you, love." Sonny berkata begitu sembari beranjak bangun menuju ke ruang makan sambil mencubit pipi istrinya mesra. Aku meringis saja.
"Kalian makan duluan deh. Gue mau mandi dulu sebentaar aja." Kata Rara sambil lari kecil naik tangga ke kamar kami.
"OK, ma'am. Tapi kita tungguin deh, asalkan beneran cuma sebentaar aja." Sonny menggoda istriku. Istriku meresponnya dengan memeletkan lidahnya ke arah Sonny.
"Lu diam di sini dulu, ya. Nanti kira-kira lima menit, lu susul gue ke kamar lu. OK?" Sonny membisikiku. Ayu kebetulan sedang ngobrol dengan Mbak Wani dan tidak melihat ke arah kami.
"Hah? Sinting apa lu? Tapi whateverlah. OK." Kataku perlahan.

Benar, kira-kira lima menit setelah Sonny naik ke kamarku, aku menyusulnya. Setibanya aku di depan pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.. wow.. kulihat Sonny sedang mengintip Rara yang sedang melucuti bajunya yang hanya dua lembar itu satu persatu.

"Goddamn, bini lu bodynya bikin gue geregetan aja." Bisik Sonny.
"Eh, monyet, gue kagak pernah minta lu ngintip. Sial, lu." Aku agak kesal juga, merasa dikerjai.
"Tenang, broer. Ini step by step. Let the pro do it. You, horny bastard, just shut up and sit tight."
"Gue hajar lu. Kalo dia teriak, satu rumah denger, kita bisa cilaka, sompret."
"Soon! Reenn! Mana sih kalian?!" kudengar Ayu berteriak memanggil dari bawah. Istriku juga pasti dengar, tapi cuek saja, lalu dengan bertelanjang bulat masuk ke dalam bath up, siap-siap mau mandi. Kami mashi terus mengintip.
"Lu turun dulu ke bawah, tenangin bini gue, OK?" bisik Sonny.
"OK." Aku beranjak perlahan pergi. Nggak tau mau ngomong apa ke Ayu, tapi penisku sudah tegang abis, seperti mau pecah rasanya.

"Yu, Si Sonny lagi nonton basket di kamar gue. Seru juga sih, lagian Rara kan masih mandi. Lu mau nonton juga?" Aku yakin Ayu pasti nggak akan berminat, karena dia paling benci sama yang namanya pertandingan basket. Konyol, katanya.
"Nggak ah, gue di sini aja nonton TV di bawah. Buruan dong. Kan gue juga lapar nih."
"Beres, manis."
"Genit lu ya kalo nggak ada siapa-siapa." Ayu menyahut sambil tersenyum manis. Aku nyengir aja, sambil lari lagi naik ke kamarku.

Sampai di sana, aku masuk dan kukunci kamarku perlahan.
"Gimana, Son?"
"Udah selesai mandi tuh. Wuih, gila, gue ngaceng berat nih, pren. Kagak nyesel nih lu?"
Aku diam saja. Nggak lama Rara keluar dari kamar mandi, seperti kebiasaanya, telanjang total hanya bercelana dalam saja. Rambutnya masih basah karena keramas.
"Aahh!" Rara menjerit kaget setengah mati melihat ada Sonny di situ. Dia mau lari lagi masuk ke kamar mandi, tapi tangan Sonny cepat menangkapnya. Rara meronta-ronta dan aku diam saja sambil menelan ludah.
"Tenang, sayang.. tenang.. gue di sini cuma mau bantuin lakilu memuaskan fantasinya." Sonny berujar perlahan sambil tangannya tetap mencengkram tangan Rara.
"Ren, kamu bener-bener gila ya. Ini apa-apaan sih?" Rara marah sekali melihat ke arahku. Aku cuma membuang muka saja.
"OK, karena kamu benar-benar sinting, aku juga bisa sinting. Tapi jangan menyesal nanti." Rara berkata begitu sambil memeluk Sonny dan mencium bibirnya walaupun masih agak ragu. Tangan mereka bergerilya kemana-mana. Buah dada Rara yang ranum menjadi target bibir dan lidah Sonny yang dengan bernapsu menjilat dan menyedotnya. Rara menggelinjang nikmat. "Mmhh.. Son.. remes dong Son.. pelan aja.. ahh.." Rara rupanya naik juga birahinya.

"Mmhh.. yeaahh.." Sonny mendongak terpejam saat Rara meremas penisnya dari balik celana jeansnya. "Buka aja, sayang.."
Aku sudah napsu berat, kukeluarkan penisku, dan mulai mengocoknya sambil masih berdiri. Kulihat Rara jongkok di depan Sonny, masih di depan pintu kamar mandi yang terbuka sambil mengeluarkan penisnya dari balik resleting dan mulai menyepongnya habis-habisan. Lidahnya bermain di kepala dan kedua buah pelir Sonny. Dikulum, dihisap, dijilat, you name it, she is doing it. Dia melakukannya sambil melirik Sonny dan aku bergantian.

"Isep, sayang.. yeaah, gitu.. uuhh.. bini lu hebat, man. Hebaatthh.. aahh.. jebol deh gue.. aarrghh!" Sambil berkata begitu, air mani Sonny tumpah di dalam mulut Rara yang langsung ditelannya. Melihat itu, aku nggak tahan lagi, dan air maniku pun langsung menyembur ke lantai. Lemas, aku terduduk di ranjang. Rara pun bangkit berdiri sambil memandang Sonny.
"Enak, Son? Hmm?" kata Rara setengah berbisik.
Sonny masih terpejam dan menganggukkan kepala sambil menelan ludahnya.
"Kalah deh Si Ayu. Sedotan lu gila banget, Ra. Ren, you're a lucky motherfucker, you know?"
"I know, man. Thanks berat. Ini rahasia kita aja ya." Sahutku santai.
"Yuk, turun. Nanti Ayu curigation, lagi. Ra, kamu turun dulu, say. Bilangan Ayu "Pertandingan basketnya" sudah ampir selesai. Nanti kita nyusul."
"OK." Rara bergegas berpakaian dan langsung turun. Aku sedikit lega karena sebagian fantasiku sudah terpuaskan.
"Reno, my man. If you need us to go any further than that, just ask, buddy. Hehehe." Sonny ngomong gitu sambil membetulkan pakaiannya. Aku ngangguk saja, ikut berberes, dan membersihkan lantai yang terkena semburan maniku barusan.

*****

Seusai makan siang yang dipenuhi dengan canda dan obrolan seperti biasanya, kami bersantai di kebun belakang rumah kami sambil makan buah-buahan yang dibawa Sonny dan Ayu. Kami duduk di meja bundar yang ada di tengah-tengah kebun kami. Aku, Rara, Sonny, Ayu. Sonny melirik Rara yang pura-pura tidak melihatnya sambil terus ngobrol denganku dan Ayu.

Tiba-tiba Rara beranjak bangun.
"Mau pipis", katanya.
Sambil berdiri begitu, sambil tangannya mengelus penis Sonny. Kurasa Ayu tidak memperhatikannya karena sibuk berkomentar tentang bunga-bunga yang kelihatan indah sekali sore itu. Sonny memandangiku sambil nyengir. Kukedipkan mataku kepadanya sambil meladeni ocehan Ayu. Sejam kemudian mereka pamit pulang.

*****

"Do you like it?" aku bertanya pada istriku sebelum tidur malam itu.
"Hmm? I think I do." Rara membalas menjawab sambil memeluk dadaku dan merebahkan kepalanya di dadaku.
"Mau coba lebih lagi?" aku bertanya singkat.
"Terserah kamu, sayang." Balasnya sambil mengelus penisku yang sudah berdiri.
"Idih, kok udah ngaceng sih ininya?" katanya lagi sambil merogoh kedalam celana tidurku yang komprang tanpa celana dalam.
Dia mulai mengelus-elus kepala penisku dan mulai mengocoknya perlahan.

"Ahh, baby.. I want you to fuck him." Kataku dengan napsu yang sudah naik.
"I know, baby.." sambil berkata begitu, kepalanya menyusup kebalik selimut dan mengulum penisku.
"This is what I did to him. Tell me how you like it.." Kurasakan air maniku segera terkumpul akibat sedotan, jilatan dan kulumannya di penisku.
"Sayang, kamu bakalan bikin aku keluar nih.. telan ya.. mmhh.. oohh." Gila, belum pernah aku keluar secepat itu. Kurang dari 2 menit saja! Istriku memang luar biasa tehnik oralnya. Maniku ditelannya.
"Baby, I need you to fuck me. Pleasee.." Rara menggelinjang sambil tangannya meremas toketnya sendiri dan lalu mengelus vaginanya yang sudah basah. Sejak kapan dia nggak pakai baju lagi?
"Aku nggak mau.. the next fuck you'll get will be from Sonny, babe." Aku berkata dengan kejam sambil membereskan celanaku dan tidur pulas.

*****

Dua hari kemudian, aku masih belum bersanggama dengan Rara. Malam harinya, sekitar pukul 7, Sonny menelponku saat aku baru selesai mandi.
"Ren, bini gue lagi ke Yogya, ada sodaranya yang meninggal. Gue udah cari alasan biar nggak ikut. So, I'll have 2 days Off. What's up?"
"Perfecto. Si Rara udah horny berat nih. Nggak gue masukkin udah dua hari. Lu dateng deh sekarang."
"Say no more, buddy." Sonny menutup teleponnya. Kira-kira setengah jam kemudian dia sudah sampai. Rara yang membukakan pintu.

Begitu melihat Rara, Sonny langsung memeluk dan mencium lehernya.
"Hello, doll. Miss me?" Ini orang cool juga, pikirku.
"Mmhh.." Rara menggelinjang senang. "A lot. You come for me, or what?"
"No, I come for my buddy. YOU will make me cum." Sonny menyeringai.
"And I will make you cum with me."
Sonny langsung menggandeng Rara ke kamar tidur kami. Aku mengikuti dari belakang.

"Strip for us. And masturbate, but stop when you are about to cum." Sonny memerintah Rara sesampainya di kamar. Aku menyetel CD jazz yang lembut untuk menunjang suasana.
Rara melucuti pakaiannya satu persatu sambil meliuk-liukan tubuhnya yang sintal mulus itu. Mau tidak mau, kami berdua menelan ludah berkali-kali. Lalu setelah bugil total, ia membelakangi kami dan membungkuk. Dengan tersenyum ia menoleh ke arah kami dan menjilat jari tengah kanannya. Lalu dengan sensualnya ia mengelus sepanjang bibir vaginanya dan dengan perlahan memasukkan jari tersebut ke dalam vaginanya keluar masuk kira-kira lima kali.

"Ouhh.. it's so wet, boys.." katanya seraya menjilat kembali jari itu.
"And it taste so yummy.." Kami kembali menelan ludah dengan tangan kami mengelus penis kami masing-masing.
Ia kemudian berbalik menghadap kami, dan berjalan menghampiri Sonny. Ia lalu berjongkok di antara selangkangan Sonny yang duduk di pinggir ranjang bersamaku menonton aksinya. Celana Sonny dibukanya dan penisnya dielus dan diremas lembut.

Kulihat kepala penis Sonny sudah sangat basah, dan makin basah karena sekarang Rara mulai menjilatinya.
"Ahh, Raa.. terus sayanghh.." Sonny menggelinjang nikmat dan aku mulai mengocok penisku perlahan.
"Enak, Son? Hmm? Mau diisep lagi kayak kemarin?" Rara dengan seksinya melirik ke arah Sonny.
"Yess.. please, babe.. suck my cock.."
Tidak perlu disuruh dua kali, Rara mengulangi aksinya. Tapi kali ini hanya sebentar saja. Mungkin dia takut Sonny keburu keluar lagi.

Tidak berapa lama kemudian, Rara menelentangkan tubuhnya di lantai kamar yang berlapis kayu sambil meremas-remas dadanya, dan tangan yang satunya bermain lincah di vaginanya. Kami ikut bertelanjang bulat sambil duduk di sebelah kanan dan kirinya.

Beberapa saat kemudian Rara mulai mengerang dan menggelinjang. Napasnya terengah-engah dan mukanya memerah. Pinggulnya terangkat-angkat dan membuat gerakan memutar perlahan. Remasan di dadanya mulai agak kasar. Puting susunya dipelintir olehnya sendiri, dan vaginanya mulai mengeluarkan cairan kental dan berbau khas. Dia sudah diambang orgasme. Sonny dengan sigap menangkap kedua tangannya dan langsung menindihnya.

Dengan satu hentakan, penisnya menyeruak ke dalam vagina istriku. Pinggul Sonny mulai bermain.
"Aahh.. aahh.. yess.. oouuhh.." Rara meracau nggak karuan.
Aku juga hampir pingsan karena napsuku. Tanganku mengocok penisku dengan cepat.
"Ohh.. Soonn.. kontol lu gede banget banget, sayang.. aahh.. ahh.. ahh.. gue mau sampe nih, Soonn.. oouugghh.. gue keluar, Soonn.. aarrgghh!" Rara menjerit-jerit merasakan nikmat yang menhantam seluruh sendinya.
"Ra.. di dalam apa di luar.." Shit.. aku baru sadar kalau Sonny lupa pakai kondom! "Di mana, Raa?" Sonny mempercepat goyangannya.
"Di luar, Son.. uuhh.." Rara udah lemas sehabis orgasme. "Wow.. anget banget, sayang.." ucap Rara lembut saat penis Sonny berkedutan di atas perut Rara yang putih dan rata. Tangan Rara cepat mengurut-urut penis Sonny yang sedang memuntahkan laharnya.
"Ooh fuucckk.." Sonny ambruk di atas tubuh istriku. Aku juga mempercepat kocokanku dan nggak lama..
"Baby, I'm coming.." aku terengah-engah mengarahkan penisku ke mulut Rara.
"Sini, sayang.. aku mau kamu punya.." Rara membuka mulutnya lebar dan kusemburkan maniku ke dalam mulutnya..
"Telen sayang.. yeaahh.. agghh!" Orgasmeku menghantamku dan penisku berkedutan di dalam mulut Rara. Dengan lembut Rara menjilati dan mengulum penisku.

Seluruh adegan itu memakan waktu hanya 1.5 jam saja. Sonny lalu pamit pulang segera.
"Thanks, Son." Kataku waktu mengantarnya ke depan pintu. Rara sudah tertidur di kamar kelelahan.
"Anytime, buddy. Memek bini lu luar biasa."
"Ayu punya gimana? Emangnya nggak seenak Rara?" ujarku iseng aja sebenarnya.
"Hehehe.. lu coba aja sendiri. My treat. Tapi itu kalau dia OK. Later, man. Let's do lunch tomorrow."
Aku tersenyum kecil dan menganggukan kepala.

*****

Besoknya aku makan siang bersama dengan Sonny di daerah Kemang. Sambil ngobrol ngalor ngidul, Sonny berkata, "Besok malam Ayu sampai di rumah. Still interested?"
"Well, gue sih OK banget kalo lu berdua OK juga. Rara gimana?" kataku pelan.
"Ajak aja besok. Gue punya rencana nih. Kita bisa nonton live show barangkali. Hahaha."
Deg. Jantungku berhenti sejenak. Sonny memang gila, kayaknya. Tapi kegilaan yang mengasyikan.
"Are you serious? Gimana caranya? Mana mau mereka?"
"Serahin aja sama Om Sonny. Lu tau beres dan ngecret aja deh pokoknya. OK ya. Gue musti balik ke kantor nih. Masih ada urusan. See you tonite."
"See you, bro."

*****

Akhirnya malam yang kunantikan tiba juga. Sekitar pukul 9 aku dan Rara sudah sampai di rumah Sonny dan Ayu di Permata Hijau. Kukatakan pada Rara bahwa another fantasy is waiting. Dia excited sekali dan siap dengan busana yang sangat frontal memamerkan keseksian tubuhnya. Kaos hitam yang hanya berupa kemben seperut dan rok mini hitam ketat dari bahan kulit membalut tubuhnya. Sepatu hak tinggi hitam menghiasi sepasang kaki panjang mulusnya.

Ayu membukakan pintu rumahnya dengan pakaian yang tidak kalah seksinya. Rok sebetis dengan belahan di bagian belakang yang dalam ke tengah pahanya dan atasnya kemeja tipis longgar tanpa BH sehingga kami dengan jelas melihat putingnya yang tegak menantang.

"Come in," katanya seraya tersenyum manis pada kami.
"Kita main strip poker malam ini. I heard you guys were having a grand time while I was gone. Curang! Kok nggak ngajak-ngajak sih?"
Kami cuma bengong saja mendengar penuturannya.
"Emangnya OK buat lu, Yu?" Tanyaku. Rara sudah merah padam wajahnya.
"Sure, sex is a sport. And I need to have some exercise. Hahaha." Busyet, udah ketularan lakinya nih, pikirku.

Tanpa ragu-ragu, Ayu menggandeng Rara dan mencium pipinya yang masih kemerahan karena kaget campur malu.
"Come on, girl.. don't be like that. What are best friends for? To fuck each other brains out!" tawanya berderai-derai disambut dengan tawa Sonny dari dalam rumah.
"Bisa aja lu, Yu.." Rara yang sudah santai kembali sekarang menyahut.
"Abis ini nih, Reno, gara-garanya."
"Tapi suka kaan.." sekali lagi Sonny yang tiba-tiba sudah disamping Rara mendekatkan wajahnya ke wajah Rara.
"He-eh. Suka banget." Rara berkata begitu sambil meremas penis Sonny.
"Kontol laki lu ini bikin gue kelojotan kemaren malem nih, Yu."
"Kalo gitu kontol lakilu musti bikin gue kelojotan dong malem ini, biar satu sama." Ayu berkata sambil melirik nakal padaku. Aku jadi tertawa kecil, namun penisku sudah tegang sekali rasanya.
"But first let's have dinner!"

*****

"Mmhh.. Ren.. jilat terus itil gue.. aahh iyaa.." Ayu mendesah lembut ketika aku mulai menjilati kelentitnya yang sudah membesar di atas sofa living roomnya. Rara dan Sonny menonton sambil keduanya mengelus-elus sendiri tubuh mereka yang sudah telanjang bulat.
"God.. suck my clit, honey.. yess.. you're gonna make me come.. oouuhh!" Jeritan lirih Ayu cukup keras. Untung saja para pembantu RT sudah di perintahkan untuk pergi keluar rumah malam ini. Jadi hanya tinggal kami berempat saja.
Kusodok-sodokan lidahku kedalam vagina Ayu yang sedang mengeluarkan cairan kenikmatannya. "Tell me what you want, babe." Kataku sekenanya. Penisku sudah mulai mengeluarkan cairan dan terasa hangat.
"I want you to fuck me and make me cum.. do it now.." Ayu meracau sambil menggeleng-gelengkan kepalanya akibat terserang birahi yang bertubi-tubi.

Kulirik Rara dan Sonny yang sedang bergumul 69 di lantai di bawah sofa itu. Erangan dan rintihan mereka cukup membuatku dan Ayu semakin beringas. Segera kuposisikan penisku ke lubang kewanitaannya. Bless.. aahh.. hangat sekali di dalam sini. Ayu dengan ahlinya mengencangkan otot vaginanya saat aku mulai menggenjotnya. Setelah beberapa kali ayunan pantatku, aku rasakan maniku mulai membludak.

"Yu.. gue bisa nggak tahan kalo lu gituin terus memeknya.. oohh.. uuhh.." aku mulai merasakan denyutan di pangkal penisku.
"Hmmhh.. biarin.. gue juga udah dikit lagi sampai kok.. hh.. lepas di dalem aja.. gue lagi aman kok.. aarrghh!" Ayu menjerit keras karena tiba-tiba aku menggenjotnya keras berkali-kali.
"Shit.. Yu.. terima nih, sayang.. shiitt.. aahh.. aahh.. gilaa.." Aku ikut teriak karena orgasmeku datang secara tiba-tiba.
"Renn.. ohh.. I'm cumming, honey.. I'm cummiinngg.. iihh.. oohh.." Denyutan memeknya sangat terasa memijat penisku. Aku ambruk di atas tubuh Ayu dan kami berdua saling berpagutan French kissing dan kuhisap dan kujilati toketnya yang montok berkeringat.
"Hhmm.. udah dulu dong, Ren.. ntar gue naik lagi nih." Kata Ayu lembut sambil menggelinjang geli.
"That's the idea, babe.. lihat tuh Rara sama Sonny.." bisikku di telinganya sembari menggigit kecil kupingnya.

Rara dan Sonny masih saling menjilat dan menghisap dengan serunya dalam posisi 69. Tubuh Rara mulai bergetar, mengerang-erang, dan tangannya mengocok penis Sonny dengan cepat. Tiba-tiba, Sonny yang berada di bawah mendorong tubuh Rara ke samping.
"Stop dulu sayang.. hhuuhh.. stop.." Sonny berdiri perlahan-lahan.
"Kenapa, Son? Nggak enak ya? Ayo dong.. tadi gue udah ampir tuh.. aaduuhh.. jangan gini dong.. tega deh lu.." Rara merajuk bercampur birahi yang membuat kepalanya pusing.
"Hehehe.. you can cum, but Ayu is the one that will do it to both of us." Deg. Jantungku berdegup kencang. Jadi ini maksudnya Si Sonny dengan live show.

Ayu tersenyum simpul mendengar itu.
"Ra, sekarang elu kangkangin muka gue. I'll take you there, honey." Ayu berkata dengan genitnya.
Rara yang sudah tidak sanggup lagi, diam sejenak, lalu mengangkangi wajah Ayu yang masih berkeringat.
"Aawwhh.. make me cum.. please make me cum.. ohh yeaasshh.. isep itil gue, sayang.. iyaahh gitu.. iyaahh.." Ayu menjerit-jerit kecil merasakan permainan lidah dan bibir Ayu di vaginanya.
Sementara itu Sonny kulihat memposisikan penisnya di vagina Ayu yang masih melelehkan air maniku.
"Aahh yess.. enak, Masshh." Ayu mulai merasakan genjotan suaminya.
"Honey.. I'm cumming.. oohh.." Rara mengerang dan mendesah panjang saat orgasmenya datang. Pinggulnya begoyang maju-mundur menggosokkan vagina dan kelentitnya ke bibir Ayu yang siap menyedot-nyedot cairan vagina Rara yang mengalir deras. Tubuh Rara yang basah berkeringat bergetar hebat dan tangannya meremas keras buah dadanya yang bergelayut manja.

Kulihat paha Sonny mulai bergetar hebat dan ia memeluk tubuh Rara dari belakang sambil terus menghentak-hentakan penisnya ke vagina istrinya. Suara becek berkecipak di dalam vagina Ayu seksi sekali.
"Oohh.. fuckin' fuck.. aku keluar, sayaanghh.." Sonny memuntahkan lahar panasnya yang pasti bercampur dengan milikku di dalam vagina Ayu. Tubuh Sonny berkelojotan dan tangannya meremasi buah dada Rara yang masih menikmati orgasme dashyatnya mengangkangi wajah Ayu.
"Yess.. anget sekali punya kamu, Masshh.. hheehh.." Ayu memejamkan matanya menikmati sensasi yang luar biasa. Bibirnya belepotan cairan Rara dan vaginanya berlelehan air maniku dan suaminya. Aku terhenyak lemas di bawah sofa dengan penis terkulai lemas dan perasaan sangat puas.

*****

Keesokkan paginya di rumah kami, aku terbangun mendapati Rara yang tengah memeluku dari belakang. Kubalikan tubuhku, dan kulihat ada senyuman lembut di wajahnya.
"Ra, baby?"
"Hmm? Udah bangun, sayang?" istriku menjawab lembut.
"Are you happy?" tanyaku tulus.
"Very. Sini, bobo lagi.. aku pengen dipeluk terus sama kamu. I love you so much, sayang."

HOT PALING TERBARU

Cerita Dewasa Ketagihan Memek Adik Tiri

Ceritaku ini dimulai, waktu aku SMA kelas 3, waktu itu aku baru sebulan tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini karena karena tidak tahan hidup menjanda lama-lama. Yang aku tidak sangka-sangka ternyata ayah tiriku punya 2 anak cewek yang keren dan seksi habis, yang satu sekolahnya sama denganku, namanya Lusi dan yang satunya lagi sudah kuliah, namanya Riri. Si Lusi cocok sekali kalau dijadikan bintang iklan obat pembentuk tubuh, nah kalau si Riri paling cocok untuk iklan BH sama suplemen payudara. cewek maniak Sejak pertama aku tinggal, aku selalu berangan-angan bahwa dapat memiliki mereka, tapi angan-angan itu selalu buyar oleh berbagai hal. Dan siang ini kebetulan tidak ada orang di rumah selain aku dengan Lusi, ini juga aku sedang kecapaian karena baru pulang sekolah. “Lus! entar kalau ada perlu sama aku, aku ada di kamar,” teriakku dari kamar. Aku mulai menyalakan komputerku dan karena aku sedang suntuk, aku mulai dech surfing ke situs-situs porno kesayanganku, tapi enggak lama kemudian Lusi masuk ke kamar sambil bawa buku, kelihatannya dia mau tanya pelajaran. “Ben, kemaren kamu udah nyatet Biologi belom, aku pinjem dong!” katanya dengan suara manja. Tanpa memperdulikan komputerku yang sedang memutar film BF via internet, aku mengambilkan dia buku di rak bukuku yang jaraknya lumayan jauh dengan komputerku. “Lus..! nich bukunya, kemarenan aku udah nyatet,” kataku. Lusi tidak memperhatikanku tapi malah memperhatikan film BF yang sedang di komputerku. “Lus.. kamu bengong aja!” kataku pura-pura tidak tahu. “Eh.. iya, Ben kamu nyetel apa tuh! aku bilangin bonyok loh!” kata Lusi. “Eeh.. kamu barusan kan juga liat, aku tau kamu suka juga kan,” balas aku. “Mending kita nonton sama-sama, tenang aja aku tutup mulut kok,” ajakku berusaha mencari peluang. “Bener nich, kamu kagak bilang?” katanya ragu. “Suwer dech!” kataku sambil mengambilkan dia kursi. Lusi mulai serius menonton tiap adegan, sedangkan aku serius untuk terus menatap tubuhnya. “Lus, sebelum ini kamu pernah nonton bokep kagak?” tanyaku. “Pernah, noh aku punya VCD-nya,” jawabnya. Wah gila juga nich cewek, diam-diam nakal juga. “Kalau ML?” tanyaku lagi. “Belom,” katanya, “Tapi.. kalo sendiri sich sering.” Wah makin berani saja aku, yang ada dalam pikiranku sekarang cuma ML sama dia. Bagaimana caranya si “Beni Junior” bisa puas, tidak peduli saudara tiri, yang penting nafsuku hilang. Melihat dadanya yang naik-turun karena terangsang, aku jadi semakin terangsang, dan batang kemaluanku pun makin tambah tegang. “Lus, kamu terangsang yach, ampe napsu gitu nontonnya,” tanyaku memancing. “Iya nic Ben, bentar yach aku ke kamar mandi dulu,” katanya. “Eh.. ngapain ke kamar mandi, nih liat!” kataku menunjuk ke arah celanaku. “Kasihanilah si Beni kecil,” kataku. “Pikiran kamu jangan yang tidak-tidak dech,” katanya sambil meninggalkan kamarku. “Tenang aja, rumah kan lagi sepi, aku tutup mulut dech,” kataku memancing. Dan ternyata tidak ia gubris, bahkan terus berjalan ke kamar mandi sambil tangan kanannya meremas-remas buah dadanya dan tangan kirinya menggosok-gosok kemaluannya, dan hal inilah yang membuatku tidak menyerah. Kukejar terus dia, dan sesaat sebelum masuk kamar mandi, kutarik tangannya, kupegang kepalanya lalu kemudian langsung kucium bibirnya. Sesaat ia menolak tapi kemudian ia pasrah, bahkan menikmati setiap permainan lidahku. “Kau akan aku berikan pengalaman yang paling memuaskan,” kataku, kemudian kembali melanjutkan menciumnya. Tangannya membuka baju sekolah yang masih kami kenakan dan juga ia membuka BH-nya dan meletakkan tanganku di atas dadanya, kekenyalan dadanya sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah kusentuh. Perlahan ia membuka roknya, celanaku dan celana dalamnya. “Kita ke dalam kamar yuk!” ajaknya setelah kami berdua sama-sama bugil, “Terserah kaulah,” kataku, “Yang penting kau akan kupuaskan.” Tak kusangka ia berani menarik penisku sambil berciuman, dan perlahan-lahan kami berjalan menuju kamarnya. “Ben, kamu tiduran dech, kita pake ’69′ mau tidak?” katanya sambil mendorongku ke kasurnya. Ia mulai menindihku, didekatkan vaginanya ke mukaku sementara penisku diemutnya, aku mulai mencium-cium vaginanya yang sudah basah itu, dan aroma kewanitaannya membuatku semakin bersemangat untuk langsung memainkan klitorisnya. Tak lama setelah kumasukkan lidahku, kutemukan klitorisnya lalu aku menghisap, menjilat dan kadang kumainkan dengan lidahku, sementara tanganku bermain di dadanya. Tak lama kemudian ia melepaskan emutannya. “Jangan hentikan Ben.. Ach.. percepat Ben, aku mau keluar nich! ach.. ach.. aachh.. Ben.. aku ke.. luar,” katanya berbarengan dengan menyemprotnya cairan kental dari vaginanya. Dankemudian dia lemas dan tiduran di sebelahku. “Lus, sekali lagi yah, aku belum keluar nich,” pintaku. “Bentar dulu yach, aku lagi capek nich,” jelasnya. Aku tidak peduli kata-katanya, kemudian aku mulai mendekati vaginanya. “Lus, aku masukkin sekarang yach,” kataku sambil memasukkan penisku perlahan-lahan. Kelihatannya Lusi sedang tidak sadarkan diri, dia hanya terpejam coba untuk beristirahat. Vagina Lusi masih sempit sekali, penisku dibuat cuma diam mematung di pintunya. Perlahan kubuka dengan tangan dan terus kucoba untuk memasukkannya, dan akhirnya berhasil penisku masuk setengahnya, kira-kira 7 cm. “Jangan Ben.. entar aku hamil!” katanya tanpa berontak. “Kamu udah mens belom?” tanyaku. “Udah, baru kemaren, emang kenapa?” katanya. Sambil aku masukkan penisku yang setengah, aku jawab pertanyaannya, “Kalau gitu kamu kagak bakal hamil.” “Ach.. ach.. ahh..! sakit Ben, a.. ach.. ahh, pelan-pelan, aa.. aach.. aachh..!” katanya berteriak nikmat. “Tenang aja cuma sebentar kok, Lus mending doggy style dech!” kataku tanpa melepaskan penis dan berusaha memutar tubuhnya. Ia menuruti kata-kataku, lalu mulai kukeluar-masukkan penisku dalam vaginanya dan kurasa ia pun mulai terangsang kembali, karena sekarang ia merespon gerakan keluar-masukku dengan menaik-turunkan pinggulnya. “Ach.. a.. aa ach..” teriaknya. “Sakit lagi Ben.. a.. aa.. ach..” “Tahan aja, cuma sebentar kok,” kataku sambil terus bergoyang dan meremas-remas buah dadanya. “Ben,. ach pengen.. ach.. a.. keluar lagi Ben..” katanya. “Tunggu sebentar yach, aku juga pengen nich,” balasku. “Cepetan Ben, enggak tahan nich,” katanya semakin menegang. “A.. ach.. aachh..! yach kan keluar.” “Aku juga Say..” kataku semakin kencang menggenjot dan akhirnya setidaknya enam tembakan spermaku di dalam vaginanya. Kucabut penisku dan aku melihat seprei, apakah ada darahnya atau tidak? tapi tenyata tidak. “Lus kamu enggak perawan yach,” tanyaku. “Iya Ben, dulu waktu lagi masturbasi nyodoknya kedaleman jadinya pecah dech,” jelasnya. “Ben ingat loh, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita aja.”Oh tenang aja aku bisa dipercaya kok, asal lain kali kamu mau lagi.” “Siapa sih yang bisa nolak ‘Beni Junior’,” katanya mesra. foto bugil Setelah saat itu setidaknya seminggu sekali aku selalu melakukan ML dengan Lusi, terkadang aku yang memang sedang ingin atau terkadang juga Lusi yang sering ketagihan, yang asyik sampai saat ini kami selalu bermain di rumah tanpa ada seorang pun yang tahu, kadang tengah malam aku ke kamar Lusi atau sebaliknya, kadang juga saat siang pulang sekolah kalau tidak ada orang di rumah. Kali ini kelihatannya Lusi lagi ingin, sejak di sekolah ia terus menggodaku, bahkan ia sempat membisikkan kemauannya untuk ML siang ini di rumah, tapi malangnya siang ini ayah dan ibu sedang ada di rumah sehingga kami tak jadi melakukan ini. Aku menjanjikan nanti malam akan main ke kamarnya, dan ia mengiyakan saja, katanya asal bisa ML denganku hari ini ia menurut saja kemauanku. Ternyata sampai malan ayahku belum tidur juga, kelihatannya sedang asyik menonton pertandingan bola di TV, dan aku pun tidur-tiduran sambil menunggu ayahku tertidur, tapi malang malah aku yang tertidur duluan. Dalam mimpiku, aku sedang dikelitiki sesuatu dan berusaha aku tahan, tapi kemudian sesuatu menindihku hingga aku sesak napas dan kemudian terbangun. “Lusi! apa Ayah sudah tidur?” tanyaku melihat ternyata Lusi yang menindihiku dengan keadaan telanjang. “kamu mulai nakal Ben, dari tadi aku tunggu kamu, kamu tidak datang-datang juga. kamu tau, sekarang sudah jam dua, dan ayah telah tidur sejak jam satu tadi,” katanya mesra sambil memegang penisku karena ternyata celana pendekku dan CD-ku telah dibukanya. “Yang nakal tuh kamu, Bukannya permisi atau bangunin aku kek,” kataku. “kamu tidak sadar yach, kamu kan udah bangun, tuh liat udah siap kok,” katanya sambil memperlihatkan penisku. “Aku emut yach.” Emutanya kali ini terasa berbeda, terasa begitu menghisap dan kelaparan. “Lus jangan cepet-cepet dong, kasian ‘Beni Junior’ dong!” “Aku udah kepengen berat Ben!” katanya lagi. “Mending seperti biasa, kita pake posisi ’69′ dan kita sama-sama enak,” kataku sembil berputar tanpa melepaskan emutannya kemudian sambil terus diemut. Aku mulai menjilat-jilat vaginanya yang telah basah sambil tanganku memencet-mencet payudaranya yang semakin keras, terus kuhisap vaginanya dan mulai kumasukkan lidahku untuk mencari-cari klitorisnya. “Aach.. achh..” desahnya ketika kutemukan klitorisnya. “Ben! kamu pinter banget nemuin itilku, a.. achh.. ahh..” “kamu juga makin pinter ngulum ‘Beni’ kecil,” kataku lagi. “Ben, kali ini kita tidak usah banyak-banyak yach, aa.. achh..” katanya sambil mendesah. “Cukup sekali aja nembaknya, taapi.. sa.. ma.. ss.. sa.. ma.. maa ac.. ach..” katanya sambil menikmati jilatanku. “Tapi Ben aku.. ma.. u.. keluar nich! Ach.. a.. aahh..” katanya sambil menegang kemudian mengeluarkan cairan dari vaginanya. “Kayaknya kamu harus dua kali dech!” kataku sambil merubah posisi. “Ya udah dech, tapi sekarang kamu masukin yach,” katanya lagi. “Bersiaplah akan aku masukkan ini sekarang,” kataku sambil mengarahkan penisku ke vaginanya. “Siap-siap yach!” “Ayo dech,” katanya. “Ach.. a.. ahh..” desahnya ketika kumasukkan penisku. “Pelan-pelan dong!” “Inikan udah pelan Lus,” kataku sambil mulai bergoyang. “Lus, kamu udah terangsang lagi belon?” tanyaku. “Bentar lagi Ben,” katanya mulai menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangiku, dan kemudian dia menarik kepalaku dan memitaku untuk sambil menciumnya. “Sambil bercumbu dong Ben!” Tanpa disuruh dua kali aku langsung mncumbunya, dan aku betul-betul menikmati permainan lidahnya yang semakin mahir. “Lus kamu udah punya pacar belom?” tanyaku.”Aku udah tapi baru abis putus,” katanya sambil mendesah. “Ben pacar aku itu enggak tau loh soal benginian, cuma kamu loh yang beginian sama aku.” “Ach yang bener?” tanyaku lagi sambil mempercepat goyangan. “Ach.. be.. ner.. kok Ben, a.. aa.. ach.. achh,” katanya terputus-putus. “Tahan aja, atau kamu mau udahan?” kataku menggoda. “Jangan udahan dong, aku baru kamu bikin terangsang lagi, kan kagak enak kalau udahan, achh.. aa.. ahh.. aku percepat yach Ben,” katanya. Kemudian mempercepat gerakan pinggulnya. “Kamu udah ngerti gimana enaknya, bentar lagi kayaknya aku bakal keluar dech,” kataku menyadari bahwa sepermaku sudah mengumpul di ujung. “Achh.. ach.. bentar lagi nih.” “Tahan Ben!” katanya sambil mengeluarkan penisku dari vaginanya dan kemudian menggulumnya sambil tanganya mamainkan klitorisnya. “Aku juga Ben, bantu aku cari klitorisku dong!” katanya menarik tanganku ke vaginanya. Sambil penisku terus dihisapnya kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan.. “Achh.. a.. achh.. achh.. ahh..” desahku sambil menembakkan spermaku dalam mulutnya. “Aku juga Ben..” katanya sambil menjepit tanganku dalam vaginanya. “Ach.. ah.. aa.. ach..” desahnya. “Aku tidur di sini yach, nanti bangunin aku jam lima sebelum ayah bagun,” katanya sambil menutup mata dan kemudian tertidur, di sampingku. Tepat jam lima pagi aku bangun dan membangunkanya, kemudian ia bergegas ke kamar madi dan mempersiapkan diri untuk sekolah, begitu juga dengan aku. Yang aneh siang ini tidak seperti biasanya Lusi tidak pulang bersamaku karena ia ada les privat, sedangkan di rumah cuma ada Mbak Riri, dan anehnya siang-siang begini Mbak Riri di rumah memakai kaos ketat dan rok mini seperti sedang menunggu sesuatu. “Siang Ben! baru pulang? Lusi mana?” tanyanya. “Lusi lagi les, katanya bakal pulang sore,” kataku, “Loh Mbak sendiri kapan pulang? katanya dari Solo yach?” “Aku pulang tadi malem jam tigaan,” katanya. “Ben, tadi malam kamu teriak sendirian di kamar ada apa?” Wah gawat sepertinya Mbak Riri dengar desahannya Lusi tadi malam. “Ach tidak kok, cuma ngigo,” kataku sambil berlalu ke kamar. “Ben!” panggilnya, “Temenin Mbak nonton VCD dong, Mbak males nich nonton sendirian,” katanya dari kamarnya. “Bentar!” kataku sambil berjalan menuju kamarnya, “Ada film apa Mbak?” tanyaku sesampai di kamarnya. “Liat aja, nanti juga tau,” katanya lagi. “Mbak lagi nungguin seseorang yach?” tanyaku. “Mbak, lagi nungguin kamu kok,” katanya datar, “Tuh liat filmnya udah mulai.” “Loh inikan..?” kataku melihat film BF yang diputarnya dan tanpa meneruskan kata-kataku karena melihat ia mendekatiku. Kemudian ia mulai mencium bibirku. “Mbak tau kok yang semalam,” katanya, “Kamu mau enggak ngelayanin aku, aku lebih pengalaman dech dari Lusi.” Wah pucuk di cinta ulam tiba, yang satu pergi datang yang lain. “Mbak, aku kan adik yang berbakti, masak nolak sich,” godaku sambil tangan kananku mulai masuk ke dalam rok mininya menggosok-gosok vaginanya, sedangkan tangan kiriku masuk ke kausnya dan memencet-mencet payudaranya yang super besar. “Kamu pinter dech, tapi sayang kamu nakal, pinter cari kesempatan,” katanya menghentikan ciumannya dan melepaskan tanganku dari dada dan vaginanya. “Mbak mau ngapain, kan lagi asyik?” tanyaku.”Kamu kagak sabaran yach, Mbak buka baju dulu terus kau juga, biar asikkan?” katanya sambil membuka bajunya. Aku juga tak mau ketinggalan, aku mulai membuka bajuku sampai pada akhirnya kami berdua telanjang bulat. “Tubuh Mbak bagus banget,” kataku memperhatikan tubuhnya dari atas sampai ujung kaki, benar-benar tidak ada cacat, putih mulus dan sekal. Ia langsung mencumbuku dan tangan kanannya memegang penisku, dan mengarahkan ke vaginanya sambil berdiri. “Aku udah enggak tahan Ben,” katanya. Kuhalangi penisku dengan tangan kananku lalu kumainkan vaginanya dengan tangan kiriku. “Nanti dulu ach, beginikan lebih asik.” “Ach.. kamu nakal Ben! pantes si Lusi mau,” katanya mesra. “Ben..! Mbak..! lagi dimana kalian?” terdengar suara Lusi memanggil dari luar. “Hari ini guru lesnya tidak masuk jadi aku dipulangin, kalian lagi dimana sich?” tanyanya sekali lagi. “Masuk aja Lus, kita lagi pesta nich,” kata Mbak Riri. “Mbak! Entar kalau Lusi tau gimana?” tanyaku. “Ben jangan panggil Mbak, panggil aja Riri,” katanya dan ketika itu aku melihat Lusi di pintu kamar sedang membuka baju. “Rir, aku ikut yach!” pinta Lusi sambil memainkan vaginanya. “Ben kamu kuat nggak?” tanya Riri. “Tenang aja aku kuat kok, lagian kasian tuch Lusi udah terangsang,” kataku. “Lus cepet sinih emut ‘Beni Junior’,” ajakku. Tanpa menolak Lusi langsung datang mengemut penisku. “Mending kita tiduran, biar aku dapet vaginamu,” kataku pada Riri. “Ayo dech!” katanya kemudian mengambil posisi. Riri meletakkan vaginanya di atas kepalaku, dan kepalanya menghadap vagina Lusi yang sedang mengemut penisku. “Lus, aku maenin vaginamu,” katanya. Tanpa menunggu jawaban dari Lusi ia langsung bermain di vaginanya.Permainan ini berlangsung lama sampai akhirnya Riri menegangkan pahanya, dan.. “Ach.. a.. aach.. aku keluar..” katanya sambil menyemprotkan cairan di vaginanya. “Sekarang ganti Lusi yach,” kataku. Kemudian aku bangun dan mengarahkan penisku ke vaginanya dan masuk perlahan-lahan. “Ach.. aach..” desah Lusi. “Kamu curang, Lusi kamu masukin, kok aku tidak?” katanya. “Abis kamu keluar duluan, tapi tenang aja, nanti abis Lusi keluar kamu aku masukin, yang penting kamu merangsang dirimu sendiri,” kataku. “Yang cepet dong goyangnya!” keluh Lusi. Kupercepat goyanganku, dan dia mengimbanginya juga. “Kak, ach.. entar lagi gant.. a.. ach.. gantian yach, aku.. mau keluar ach.. aa.. a.. ach..!” desahnya, kemudian lemas dan tertidur tak berdaya. “Ayo Ben tunggu apa lagi!” kata Riri sambil mengangkang mampersilakan penisku untuk mencoblosnya. “Aku udah terangsang lagi.” Tanpa menunggu lama aku langsung mencoblosnya dan mencumbunya. “Gimana enak penisku ini?” tanyaku. “Penis kamu kepanjangan,” katanya, “tapi enak!”. “Kayaknya kau nggak lama lagi dech,” kataku. “Sama, aku juga enggak lama lagi,” katanya, “Kita keluarin sama-sama yach!” terangnya. “Di luar apa di dalem?” tanyaku lagi. “Ach.. a.. aach.. di.. dalem.. aja..” katanya tidak jelas karena sambil mendesah. “Maksudku, ah.. ach.. di dalem aja.. aah.. ach.. bentar lagi..” “Aku.. keluar.. ach.. achh.. ahh..” desahku sambil menembakkan spermaku. “Ach.. aach.. aku.. ach.. juga..” katanya sambil menegang dan aku merasakan cairan membasahi penisku dalam vaginanya. cewek nakal Akhirnya kami bertiga tertidur di lantai dan kami bangun pada saat bersamaan. “Ben aku mandi dulu yach, udah sore nich.” “Aku juga ach,” kataku. “Ben, Lus, lain kali lagi yach,” pinta Riri. “Itu bisa diatur, asal lagi kosong kayak gini, ya nggak Ben!” kata Lusi. “Kapan aja kalian mau aku siap,” kataku. “Kalau gitu kalian jangan mandi dulu, kita main lagi yuk!” kata Riri mulai memegang penisku. Akhirnya kami main lagi sampai malam dan kebetulan ayah dan ibu telepon dan mengatakan bahwa mereka pulangnya besok pagi, jadi kami lebih bebas bermain, lagi dan lagi. Kemudian hari selanjutya kami sering bermain saat situasi seperti ini, kadang tengah malam hanya dengan Riri atau hanya Lusi. Oh bapak tiri, ternyata selain harta banyak, kamu juga punya dua anak yang siap menemaniku kapan saja, ohh nikmatnya hidup ini. Itulah cerita dewasa yang bisa diberikan oleh berita terbaru kali ini, semoga saja anda bisa mengambil semua hikmah yang terkandung didalam cerita dewasa tersebut, perlu diingat cerita ini khusus bagi anda yang sudah dewasa sekian dan terima kasih.
HOT PALING TERBARU

Ngentot Memek Pacar Dikosan





HOT PALING TERBARU

Foto Telanjang Tante Mira Di Kamar Mandi


 

Tante Eva Cantik Toge Pose Bugil

Tante Eva Cantik Toge Pose Bugil 

HOT PALING TERBARU

Gambar Memek Tante Habis Dientot



Ngentot Meki Perawan Muncrat Sembarangan
Ngentot Meki Perawan Muncrat Sembarangan
Ngentot Meki Perawan Muncrat Sembarangan
Ngentot Meki Perawan Muncrat Sembarangan 

HOT PALING TERBARU

Memek Perawan Gadis Sma


Sebut saja namanya Siska (bukan nama sebenarnya). Foto tante kembang manis ini saya dapatkan dari forum lendir yang linknya disebarkan oleh teman fb saya. Karna lumayan bagus maka saya bagikan lewat blog ini foto tante ber-meki plontos tersebut. Berikut adalah foto-foto pesona keindahan meki plontos tante siska:
Foto Bugil





HOT PALING TERBARU